SUmar bin Khaththab ra sebagai khalifah pernah hendak mengambil paksa rumah Abbas bin Abdil Muththalib ra, paman Rasulullah saw.

“Dulu Rasulullah saw pernah berkeinginan untuk meluaskan masjid ini, tapi belum terlaksana hingga beliau meninggal. Maka sekarang aku ingin merealisasikan rencana Rasulullah tersebut,” ujar Sayyidina Umar kepada Abbas. “Tapi perluasan tersebut pasti akan mengggusur rumah Anda. Untuk itu serahkanlah rumah Anda kepada Negara. Kami akan mengggantinya dengan tanah yang lebih luas dan rumah yang lebih bagus.”
Saat Amirul Mukminin menyampaikan hal tersebut, beliau sangat yakin bahwa Sayyidina Abbas akan taat dan tunduk pada keputusan Khalifah. Namun di luar dugaan, ternyata Abbas menolak! “Tidak! Aku tidak akan menyerahkan rumahku kepadamu.”
“Aku tidak memintamu untuk menyerahkan rumahmu kepadaku. Tapi kepada negara, untuk perluasan masjid. Untuk kepentingan ummat. Atas rencana awal dari Rasulullah!”
“Walau untuk itu. Karena sebenarnya Andalah yang menjadi ekskutornya!” suara Abbas kali ini agak meninggi.
“Kalau begitu aku akan memaksamu!” suara Umar pun sudah mulai meninggi.
“Tidak bisa begitu! Harus ada yang menjadi penengah di antara kitta.”
“Baiklah. Siapa yang Anda inginkan untuk menengahi kita?”
“Khudzaifah Ibnul Yaman...!”

Mereka berdua pun segera bergegas menemui Khudzaifah Ibnul Yaman ra. Sesampainya di hadapan sahabat yang dulu ditugasi menjaga rahasia Rasulullah saw tersebut, Umar dan Abbas segera menyampaikan maksud kedatangan mereka. Khudzaifah menarik nafas panjang, melihat ke arah Umar, Amirul Mukminin dengan cinta dan melihat ke arah Abbas, Paman Rasulullah saw dengan ta’zhim.

Khudzaifah tidak mengadili perselisihan dua orang mulia yang kini duduk di hadapannya, meminta fatwa. Akan tetap beliau menyampaikan cerita tentang Nabiyallah Dawud as, bahwasanya dulu Nabi Dawud pun pernah mau memperluas Baital Maqdis. Akan tetap itu berdampak kepada rumah seorang anak yatim yang berada tepat di sebelah Masjidil Aqsha. Nabi Dawud pun hendak mengambil alih rumah tersebut untuk perluasan masjid. Terkait itu kemudian Allah swt mewahyukan kepada Nabi Daud: “Inna ab’adal baiti anizh zhulmi lahuwa baiti = Sesungguhnya rumah yang paling jauh dari kezhaliman adalah rumahku!”

Setelah Khudzaifah menutup ceritanya, Abbas menoleh ke arah Umar, “Bagaimana, apakah Anda masih bersikeras ingin mengambil rumahku?”
“Tidak! Aku tidak lagi akan melanjutkan perluasan Masjid Nabawi dengan mengorbankan rumahmu.” Umar menjawab pertanyaan Abbas dengan hati yang menjadi sumber keputusannya.
Di luar dugaan, justru dengan keputusan Umar yang demikian itu hati Abbas menjadi luluh. “Karena Anda sudah tidak lagi memaksa dan arogan, maka dengan ini aku serahkan rumahku untuk negara, untuk meluaskan Masjid Rasulillah saw tanpa harus Anda kasih ganti rugi.”

Kehidupan Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum adalah sebaik-baik teladan: Cinta, persaudaraan, perjuangan dan penghambaan. Untuk dibaca ulang oleh generasi setelahnya, lagi dan lagi. Sekian banyak pelajaran itu hendaklah menjadi rujukan di setiap masanya untuk menyelesaikan berbagai urusan yang melilit.

Allah mendewasakan ummat ini dengan sekian masalah dan tantangan. Bukan masalah itu yang tercela. Tapi cara kita keluar dari masalah tersebut yang kelak akan menjadi cerita, apakah kita telah sungguh-sungguh beritikad menyelesaikan masalah ataukah kita akan disebut sebagai yang menciptakan masalah di atas masalah.