Sa`ad bin Abī Waqqās merupakan salah satu sahabat Rasulullah yang mempunyai peranan penting dan termasuk seorang yang awal masuk Islam.  Kepahlawanan Sa'ad bin Abi Waqqas tercatat dalam tinta emas saat memimpin pasukan Islam melawan tentara Persia di Qadissyah. Peperangan ini merupakan salah satu peperangan terbesar umat Islam.

Sa’ad bin Abi Waqqash adalah salah seorang diantara sepuluh sahabat yang mendapat kabar gembira masuk surga.  Beliau adalah orang pertama yang melontarkan panah dalam perang di jalan Allah dan sebagai orang yang ke empat mendapat hidayah merasakan indahnya Islam melalui dakwah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu ketika umurnya 17 tahun.

Penobatan Sa'ad Bin Abi Waqqash Di Irak

Ketika masuk awal tahun ke 14 H khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu memotivasi kaum muslimin untuk berjihad (jihad yang syar’i) di bumi Irak. Yakni ketika sampai kepadanya berita terbunuhnya Abu Ubaid pada peperangan di Jembatan sungai Eufrat, dan menguatnya kembali kekuatan Persia di bawah pimpinan Yazdigrid dari kalangan Raja Persia yang kafir kepada Allah Rabb semesta alam. Ditambah lagi dengan penghianatan ahlu dzimmah di Irak terhadap kesepakatan yang mereka buat dengan kaum muslimin. Mereka telah melepaskan ketaatan mereka terhadap pemerintah Islam, dengan menyakiti kaum muslimin dan mengusir para gubernur wilayah yang ditunjuk khalifah Umar.

Maka Umar radhiyallahu 'anhu memerintahkan kepada seluruh pasukannya untuk keluar dari wilayah Persia dan berkumpul di penghujung negeri-negeri jajahan Persia.  

Pada awal bulan Muharram tahun 14 H khalifah Umar berangkat dari Madinah membawa pasukannya dan singgah di sebuah tempat yang banyak airnya disebut dengan Shirar (sebuah tempat yang terletak tiga mil dari Madinah menuju jalan ke Irak). Di tempat itu khalifah memerintahkan pasukannya untuk berhenti. Beliau sendiri telah bertekad untuk memimpin sendiri peperangan melawan Irak. Dia telah menunjuk Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu sebagai penggantinya di Madinah. Dalam keberangkatan ini dia membawa sahabat senior seperti Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu dan sahabat lainnya.

Kemudian khalifah Umar menggelar musyawarah untuk membicarakan keinginannya tersebut (memimpin langsung pasukan). Mereka berkumpul untuk shalat, sementara khalifah telah mengirim utusan kepada Ali untuk turut menghadiri pertemuan tersebut. Maka Ali segera datang dari Madinah. Ketika semua telah berkumpul Umar mengutarakan maksud hatinya. Seluruhnya yang hadir menyetujui usulnya untuk memimpin langsung pasukan menuju Irak kecuali Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu yang memberikan usulan lain padanya. la berkata, "Aku khawatir jika engkau kalah maka seluruh kaum muslimin di seluruh penjuru bumi akan menjadi lemah, maka aku mengusulkan agar engkau mengutus seseorang dan engkau kembali ke Madinah." Akhirnya khalifah Umar dan seluruh sahabat menerima dan membenarkan nasihat Abdurrahman radhiyallahu 'anhu.

Umar berkata padanya, "Siapa menurutmu yang akan kita kirim sebagai panglima ke Irak?"

Abdurrahman menjawab, "Aku telah menemukannya."

Umar berkata, "Siapa dia?"

Abdurrahman menjawab, "Singa yang mencengkram dengan kukunya, Sa'ad bin Malik az-Zuhri."

Maka khalifah Umar membenarkan usulannya ini dan segera mengirim Sa'ad sebagai Panglima tertinggi untuk wilayah Irak.

Ketika melepas kepergiannya Umar berkata,

“Engkau akan menghadapi suatu perkara yang sangat berat. Maka bersabarlah terhadap apapun yang menimpamu maka akan terkumpul dalam dirimu rasa takut kepada Allah, dan ketahuilah sesungguhnya takut (khasyah) kepada Allah akan dapat melekat dengan dua perkara; yaitu dengan mentaatiNya dan menjauhi segala yang dilarangNya. Sesungguhnya barangsiapa yang dapat selalu patuh dan tunduk kepadaNya adalah orang-orang yang membenci dunia dan mencintai akhirat. Sebaliknya orang-orang yang bermaksiat melanggar perintahnya adalah orang- orang yang mencintai dunia dan membenci akhirat.”

“Sesungguhnya hati itu diciptakan Allah memiliki hakikat, ada yang bersifat rahasia dan ada yang bersifat terang-terangan. Adapun hakikat hati yang terang-terangan yaitu jika dia merasa bahwa orang yang memujinya dan menghinanya sama saja tidak dapat mempengaruhi dirinya dalam berbuat kebaikan …

Maka Sa'ad berangkat menuju Irak dengan membawa 4000 pasukan, 3000 orang dari penduduk Yaman, ada yang menyebutkan dia membawa 6000 pasukan, dan khalifah Umar mengiringinya dari Shirar hingga al-A'wash (suatu tempat di arah menuju jalan ke Irak, tempat ini adalah sebuah lembah yang merupakan tempat mengalirnya air ketika hujan dari arah Utara, di sinilah berkumpulnya air Madinah sekarang jika hujan).

PEPERANGAN QADISIYAH

Pertempuran di Qadisiyah adalah pertempuran terbesar yang tidak pernah terjadi sebelumnya di Irak. Ketika dua pasukan telah berhadap-hadapan, Sa'ad tertimpa penyakit irqunnisa dan bisul-bisul yang tumbuh di sekujur tubuhnya hingga tidak dapat mengendarai kudanya. Dia hanya dapat menyaksikan pertempuran di dalam benteng dengan bersandar di atas dadanya yang terletak di atas bantal sambil mengatur tentaranya. Dia telah mewakilkan urusan perang ini kepada Khalid bin Urfuthah, di Sayap kanan dia menempatkan Jarir bin Abdillah al-Bajili, dan di sayap kiri dia mengangkat Qais bin Maksyuh. Qais dan al-Mughirah adalah pasukan bantuan yang dikirimkan Abu Ubaidah dari Syam selesai pertempuran di Yarmuk.

Sa'ad melaksanakan Shalat Zuhur dengan pasukannya kemudian dia berpidato memberikan wejangan kepada kaum muslimin serta memberi semangat untuk berjihad dan ia membacakan ayat,

"Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang shalih." (Al-Anbiya': 105).

Dia membacakan ayat Jihad dan surat yang berkenaan dengan masalah itu. Setelah itu Sa'ad bertakbir empat kali, selesai takbir ke empat mereka langsung maju menyerbu musuh hingga malam tiba. Kemudian mereka berhenti bertempur, sementara dari kedua belah pihak telah banyak yang menjadi korban. Pada pagi harinya pertempuran kembali berkobar hingga larut malam pertempuran masih terus berjalan setelah itu mereka berhenti. Pada pagi hari berikutnya mereka kembali bertempur hingga sore tiba. Esok harinya (hari ketiga) mereka kembali bertempur hingga sore hari, dan malam ini disebut dengan malam al-Harir.

Pada pagi hari yang keempat mereka bertempur dengan sengitnya. Hari itu kaum muslimin mengalami kesulitan disebabkan pasukan bergajah musuh membuat kuda-kuda Arab berlarian menghindarinya. Maka para sahabat berusaha menghabisi seluruh gajah-gajah dengan para pengendara yang mengendalikannya. Mereka berhasil melukai dan membutakan mata-mata gajah ini. Beberapa orang dari tentara kaum muslimin benar-benar menunjukkan kebolehannya dalam bertempur mati-matian memerangi musuh, seperti Thulaihah al-Asadi, Amr bin Ma'di Karib, al-Qa'qa bin Amr, Jarir bin Abdillah al-Bajili, Dhirar bin al-Khaththab, Khalid bin Urfuthah dan lain-lainnya.

Sebelumnya telah berlalu tiga hari. Perang berkelanjutan sepanjang malam terakhir ini, tidak terdengar suara orang-orang kecuali gemerincing pedang yang beradu. Peperangan ini terus berlanjut hingga hari ke empat yang disebut dengan hari Qadisiyyah, pada hari inilah tentara Persia mengalami kehancuran.

Pada waktu matahari tergelincir di hari ini -disebut dengan hari Qadisiyah tepatnya hari senin bulan Muharram tahun 14 H sebagaimana yang dikatakan Saif bin Umar at-Tamimi- tiba-tiba angin berhembus sangat kencang hingga menerbangkan tenda-tenda tentara Persia dari tempatnya. Bahkan berhasil menerbangkan dan menjatuhkan singgasana Rustam yang biasa didudukinya. Maka Rustam segera menaiki kudanya dan melarikan diri. Namun  kaum muslimin segera mengejarnya dan berhasil membunuhnya. Mereka juga berhasil membunuh Jalinius (pimpinan 40000 pasukan penyerang) yang berada di posisi depan pasukannya.

Akhirnya tentara Persia mengalami kekalahan yang telak. Mereka melarikan diri kocar-kacir sementara kaum muslimin dengan mengejar dan mengakhiri mereka. Maka tentara Islam berhasil mengurangi 30.000 pasukan musuh pada hari itu, dan sebelumnya mengakhiri pembangkangan 10.000 tentara Persia yang menolak menyembah Allah Rabb semesta alam. Adapun jumlah pasukan Islam yang terbunuh pada hari ini dan hari sebelumnya sebanyak 2500 orang -semoga Allah merahmati mereka-.

Kaum mulimin terus mengejar pasukan Persia hingga mereka masuk ke dalam kota al-Madain tempat kediaman raja dan istana kekaisarannya. Yang berhasil membunuh Rustam adalah Hilal bin Ullafah at-Taimi dan yang menghabisi Jalinius adalah Zuhrah bin Hawaiah as-Sa'di. Adapun Sa'ad tidak dapat turut bertempur disebabkan penyakitnya. Namun dia terus menerus memantau perkembangan pasukannya sambil memberikan instruksi untuk kebaikan pasukannya, meski demikian dia tidak menutup pintu istana karena keberaniannya, hingga andaikata tentaranya lari pasti dengan mudah tentara Persia dapat menangkapnya dengan tangan mereka tanpa ada perlawanan darinya.

Disadur dari  al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir rahimahullahu