Abdullah bin Umar merupakan putra dari Umar bin Khattab yang memiliki keistimewaan dalam ilmu dan amalnya. Ayahnya sangat mendukungnya dan mendidik dalam hal keislaman. Bahkan, karena saudari kandungnya yang bernama Hafsah binti Umar menjadi istri Rasulullah SAW, maka ia senantiasa meneladani sifat dan kebiasaan beliau.

Abdullah bin Umar termasuk orang yang hidup makmur dan kaya raya. Ia merupakan pedagang dan saudagar yang jujur dan berhasil dalam sebagian besar kehidupannya. Di samping itu, gajinya yang berasal dari Baitul Maal (kas negara) dapat terbilang tidak sedikit. Namun, tunjangan tersebut tidak disimpannya, melainkan dibagi-bagi kepada fakir miskin dan anak yatim.

Bagi Badullah bin Umar, kedermawanannya itu tidak membuatnya khawatir akan jatuh miskin dan kelaparan. Sikapnya yang senang memberi kepada orang lain menjadikannya dikenal sebagai orang yang sangat pemurah.

Seseorang bernama Ayub bin Ma'il Ar Rasibi pernah menceritakan salah satu contoh kedermawanan Abdullah bin Umar. Pada suatu hari, Abdullah bin Umar menerima uang sebanyak 4000 Dirham dan sehelai baju dingin. Hari berikutnya, Ayub Bin Ma'il Ar Rasibi melihatnya di pasar sedang membeli makanan untuk hewan tunggangannya secara berhutang. Maka, Ayub bin Ma'il pergi menemui keluarga Abdullah bin Umar. "Bukankah kemarin Abdullah bin Umar menerima kiriman 4000 Dirham dan sehelai baju dingin?" tanya Ayub Bin Ma'il.

"Benar," jawab salah seorang dari keluarga Abdullah bin Umar.

"Saya lihat dia tadi di pasar membeli makanan untuk hewan tunggangannya dan tidak punya uang untuk membayarnya," kata Ayub bin Ma'il.

"tidak sampai malam hari, uang itu telah habis dibagi-bagikannya. Mengenai baju dingin, mula-mula dipakainya, lalu ia pergi keluar. Saat ia kembali, baju itu tidak kelihatan lagi. Ketika kami tanyakan, jawabnya bahwa baju itu telah diberikannya kepada seorang miskin," tutur keluarganya.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Ayub bin Ma'il pamitan pulang. Dalam perjalanan, Ayub bin Ma'il berkata dalam hati, sungguh kedermawanan Abdullah bin Umar bukanlah sebagai alat untuk mencari nama, popularitas atau memperoleh penghormatan dari manusia. Semua niatan itu berasal dari dalam hatinya yang tulus dan semata-mata karena Allah SWT. Pemberiannya pun hanya ditujukan kepada fakir miskin, anak yatim dan orang yang benar-benar membutuhkan. Ayub bin Ma'il menambahkan jarang sekali ia makan seorang diri, karena pasti disertai anak-anak yatim dan kaum kafir miskin.

Suatu hari, khalifah Ustman bin Affan pernah menawari Abdullah bin Umar untuk menjabar sebagai hakim. Namun ia tidak mau menerimanya dan memilih menjadi warga biasa. Memasuki masa tua, Abdullah bin Umar kehilangan penglihatannya. Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits setelah Abu Hurairah ini, kemudian wafat pada tahun 72 Hijriyah dalam usia 84 tahun.