Seputar Ananda

Ikut Campurlah Dalam Memilih Jodoh Anakmu, Ayah...

Perempuan muda cantik dan menarik itu duduk didepan saya dengan dengan ekspresi wajah yang hampa.
Dia datang untuk berkonsultasi persoalan anaknya yang terpapar pornografi. Tetapi ternyata bukan anaknya saja yang bermasalah perkawinannya sejuta kali lebih bermasalah.

Sudah tak terhitung berapa banyak saya menghadapi klien yang datang dengan berbagai macam masalah terutama mereka yang sekarang ini menghadapi kerumitan hidup karena anak anak mereka kecanduan games, pornografi,masturbasi dan berbagai bentuk kegiatan yang bisa di golongkan sebagai seks suka sama suka, ternyata sebagian besar punya masalah dalam perkawinannya.
Bayangkanlah, bagaimana kami akan menolong anaknya, kalau orang tuanya juga bermasalah!.

Umumnya tak perlu pembicaraan yang panjang, untuk saya menemukan bahwa salah satu akar permasalahannya adalah : “Keliru memilih jodoh!”.

“Jadi, apakah ayahmu tahu bahwa latar belakang calon suamimu seperti ini ?”
“Nggak bu” atau mereka menggelengkan kepala sambil berurai airmata.
“Beliau tidak bertanya apapun?“ Tanya saya selanjutya
“Nanya sih bu, Cuma bilangnya begini : Kamu sungguh sudah serius?, sudah dipikirin masak masak ?”
Atau ada juga orang tua dan ayah yang memanggil calon menantu dan hanya menanyakan keseriusannya terhadap anak gadisnya, lalu pekerjaan : sudah bekerja belum, rencananya kedepan bagaimana .
Tidak sedikit kasus yang ayahnya tidak bertanya apa apa, tapi langsung menindak lanjuti saja dengan pertemuan keluarga, melamar, pernikahan dan resepsinya – Selesai.

Tentu, hal ini terjadi bukan saja pada anak perempuan tetapi juga pada anak laki laki.. Tapi mengapa dialog dengan anak perempuan yang saya singgung diatas?, karena secara agama dan budaya anak perempuan harus dilindungi bukan saja oleh ayahnya tapi juga oleh pamannya dan saudara lelakinya.

Read more: Ikut Campurlah...

Belajar Dan Tumbuh Bersama Buah Hati

Pagi hari, seorang anak terbangun dari tidurnya. Didapatinya ibunya sedang membuat sarapan di dapur. Ia pun mengikuti langkah ibunya. Setelah sarapan usai, ia dimandikan oleh ibunya. Rapi, harum, dan bersih ia kini. Perutnya pun sudah terisi penuh. Ingin sekali ia bermain di luar rumah, entah bermain sepeda atau sekadar berlari-lari menghirup udara segar. Namun, ibunya tak mengizinkan. Dengan dalih tak bisa mengawasi anaknya bermain di luar sebab pekerjaan rumah masih ‘menggunung’. Anak tersebut kembali duduk di dalam rumah, dihidupkanlah TV oleh ibunya agar anak tersebut dapat duduk manis selama ibunya menyapu, mengepel, mencuci piring, dan memasak. Sesekali ia mengikuti langkah ibunya yang sedang ‘bekerja’, ia pun berusaha membantu pekerjaan ibunya. Namun sang ibu melarangnya dengan alasan pekerjaannya akan semakin lama jika anaknya ikut serta. Maka, kembalilah sang anak ke depan layar TV. Usai sudah pekerjaan ibunya, ibunya pun kini duduk di sebelah anaknya, HP tergenggam manis di tangannya. Sang anak pun senang. Ia mengeluarkan berbagai mainan untuk bermain bersama ibunya. Ibu berusaha bermain bersama sang anak, meski harus diselingi dengan ‘ketik-ketik’ di layar HP untuk membalas chat whatsApp, mengurusi jualan on line, atau sekadar upload foto terbaru di media sosial dan ber’haha-hihi’ dengan teman-teman dunia maya.

Di rumah yang lain, seorang anak terbangun tanpa kehadiran ibu di sampingnya. Ibunya telah berangkat ke kantor. Segala keperluannya telah disiapkan oleh seorang ‘Mba’ yang akan menemaninya sepanjang hari. Sang ibu akan pulang malam sekali. Dengan sisa-sisa tenaganya, berusaha membacakan sebuah cerita pengantar tidur untuk buah hatinya. Meski pikirannya masih melekat pada tugas-tugas kantor yang menumpuk.

Read more: Belajar Dan Tumbuh...

Cara Mengajarkan Anak Shalat Berjamaah DI Masjid

Seringkali orangtua mengajak anaknya ketika shalat di masjid dengan tujuan untuk mengajari anak-anaknya agar terbiasa shalat berjamaah ketika sudah dewasa nanti. Dan hal ini hukumnya diperbolehkan. Dengan melihat secara langsung dan melakukannya secara langsung sejak usia dini, maka apa yang mereka lakukan di masjid seperti shalat bersama, melakukan dzikir, membaca alquran bersama-sama akan memberikan pengaruh yang kuat dalam jiwa mereka, sehigga tanpa disadari pengaruh tersebut akan tetap tertanam hingga mereka beranjak dewasa.

Hanya saja, kadang anak-anak suka sekali membuat keributan di mana saja mereka berkumpul dengan dengan teman-temannya, tidak terkecuali ketika mereka berada di masjid. Untuk itu, orangtua seharusnya memberikan pengarahan agar anak dapat menjaga adabnya ketika berada di dalam masjid, sehingga tidak mengganggu orang lain yang melaksanakan shalat di masjid tersebut. Akan tetapi bila pengarahan tersebut tidak dihiraukan maka  wajib bagi bapaknya atau walinya untuk mengambil tindakan (menghukumnya) dan mendidiknya… Atau wajib bagi petugas dan pelayan masjid untuk mengusir mereka… Seperti inilah praktek kisah yang disebutkan oleh Alhafizh Ibnu Katsir: “Dahulu Umar bin Khottob radhiallahu ‘anhu bila melihat anak-anak bermain di masjid, memukuli mereka dengan pecut, dan setelah Isya’ beliau memeriksa masjid, sehingga tidak menyisakan satu orang pun. (Tsamarul Mustathob 1/761)

Read more: Cara Mengajarkan...

Anak Adalah Aset Bukan Beban!!

Bila Anda merasa lelah mendidik anak, maka bisa jadi itu adalah bukti bahwa anda belum menikmati proses dan hasil mendidik anak. Ketika Anda merasa bahagia
setelah melihat anak kita sukses (sarjana, dapat kerja, dll), maka yang harus Anda ingat itu bisa jadi terlalu lama. Apalagi bila Anda memiliki banyak  anak.

Anak-anak merupakan aset. Bukan beban. Anak sholeh yang bisa mendoakan orang tuanya, itu aset. Ketika kita meninggal, maka yang paling berhak mensholatkan kita adalah anak kita. Itu aset. Sholat jenazah itu isinya doa semua. Anak itu kekayaan di dunia dan akhirat.

Rasululloh bersabda: “Kamu (anak lelaki) dan hartamu milik orang tuamu.”

Artinya, walaupun sudah menikah, orang tua punya hak atas harta kita. Anak-anak yang kita dorong untuk menghafal Al Qur’an 30 juz kelak di hari kiamat yang mendapat keistimewaan bukan hanya anak itu, tapi juga orang tuanya (mahkota).

Maka, hilangkan anggapan bahwa anak-anak itu beban. Anak-anak kita tidak menumpang hidup pada kita. Bila Anda menganggap bahwa anak Anda menumpang hidup pada Anda berarti Anda sombong. Bayi lahir sudah membawa rezekinya. Yang menjadi masalah adalah kita belum “percaya” pada Allah.

Kebanyakan orang tua sekarang tidak menginginkan punya anak banyak karena biaya pendidikan mahal. Itu pemikiran yang sangat logis. Tapi itu juga berarti imannya belum berperan. Kalau anak adalah aset, maka kita ingin punya sedikit atau banyak?

Read more: Anak Adalah Aset...