Seputar Ananda

Tips Mengajarkan Anak Puasa

Sudah menjadi tanggung jawab orang tua mendidik dan membimbing anak dalam setiap langkahnya terutama dalam melakukan ibadah. Sejak usia dini, anak diajarkan untuk melakukan ibadah seperti sholat dan puasa. Walaupun ibadah yang dilakukan tidaklah sempurna, tetapi sudah dapat membuat anak mengerti akan ibadah yang wajib dilakukan nantinya, dan membuat anak terbiasa untuk melakukan tanpa adanya paksaan. Berikut ini ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan agar putra-putri Anda dapat belajar menjalankan ibadah puasa walau usia mereka masih belia.

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz; dia berkata, “Rasulullah mengutus untuk mengumumkan pada pagi hari asyura’ di wilayah kaum Anshar yang berada di sekitar kota Madinah:
من كان أصبح صائما فليتمّ صومه ومن كان أصبح مفطرا فليتمّ بقية يومه
‘Barang siapa yang pagi hari ini berpuasa, hendaklah menyelesaikannya. Barang siapa yang tidak berpuasa (sudah sarapan), hendaknya menahan (makan dan minum) sampai selesai.’

Setelah adanya pengumuman itu, kami berpuasa dan mengajak anak-anak untuk melaksanakan puasa. Kami juga mengajak mereka ke masjid dan memberikan mereka mainan dari kulit (wol). Jika mereka menangis karena lapar, kami menyodorkan mainan sampai waktu berbuka puasa tiba.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Meski anak-anak tersebut masih kecil, ternyata masih ada orang besar yang kalah dari mereka:
وقال عمر رضي الله عنه لنشوان في رمضان: ويلك! وصبياننا صيام! فضربه
“Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang yang mabuk-mabukan pada siang hari bulan Ramadhan, ‘Celaka kamu! Anak-anak kami yang masih kecil saja berpuasa!‘ Kemudian beliau memukulnya.” (Shahih Al-Bukhari, bab “Shaum Ash-Shibyan”, no. 1690)

Kasihan, ‘kan masih kecil
Di sinilah perlunya orang tua bersikap jeli. Setiap anak dikaruniai kemampuan jasmani maupun rohani yang berbeda. Oleh sebab itu, orang tua hendaklah mampu menyadari seberapa siapkah anak mereka untuk dilatih berpuasa. Tidak menutup kemungkinan seorang anak berusia 3 tahun sudah mampu menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Sebaliknya, boleh jadi ada anak berusia 6 tahun yang hanya mampu berpuasa “beduk” (latihan berpuasa sampai waktu zuhur).

Sepatutnya orang tua menanamkan kepada anak tentang rasa cinta terhadap ibadah kepada Allah. Anak yang tumbuh dengan asuhan demikian, insyaallah akan menyemai manisnya iman kala ia dewasa nanti. Bila orang tua memaksa anak untuk berpuasa di luar batas kemampuan si anak, ibadah yang sejatinya indah malah berubah jadi rasa susah.

Read more: Tips Mengajarkan...

Ada Saatnya Ayah Mengatakan "Tidak" Pada Anak

Seringkali seorang ayah tidak pernah bisa berkata tidak kepada anak-anaknya. Entah karena ingin membuktikan rasa sayangnya atau sebagai kompensasi atas kurangnya waktu bersama anak-anak. Padahal dengan selalu mengiyakan apa keinginan anak  belum tentu juga akan menjadi kebaikan bagi anak-anaknya. Adakalanya, seorang ayah harus bisa berkata "Tidak" kepada anaknya, dan ini semua tentunya untuk kebaikan sang anak.

Nah, berikut ini ada sebuah kisah tentang keteladanan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz ketika berperan sebagai ayah.

Sejarah Islam memillki dua Umar yang sangat disegani, yakni Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Umar yang pertama adalah sahabat Rasul Saw, mertua dan khalifah (pemimpin) umat Islam.

Umar bin Khattab terkenal karena kerasnya menentang Islam sebelum menjadi Muslim. Tapi setelah masuk Islam menjadi sangat tegas terhadap orang kafir dan pembela Islam yang utama. Sedangkan Umar bin Abdul Aziz adalah seorang Khalifah dari Bani Umayyah yang hidup pada era Tabi’in. 1a terkenal karena mampu menyejahterakan penduduk yang dipimpinnya. Meski negara dan masyarakat dalam keadaan sejahtera, ia tetap menjadi seorang khalifah yang sangat zuhud (sederhana).

Jika keteladanan keduanya dalam memimpin umat, sudah tidak diragukan lagi dan banyak diriwayatkan. Tapi keteladanan keduanya ketika menjadi seorang ayah bagi anak-anaknya di tengah keluarga, jarang diriwayatkan. Padahal, keduanya juga seorang ayah yang memiliki banyak keteladanan saat memerankan dirinya menjadi Bapak bagi anak-anaknya.

Ketika sedang sakit, Khalifah Umar bin Abdul Azis didatangi oleh sahabatnya, Maslamah bin Abdul Malik. Ia adalah seorang keluarga Abdul Malik bin Marwan. Maslamah mengingatkan Umar bin Abdul Aziz dengan mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya engkau telah membuat anak-anakmu miskin. Padahal harta negara berlimpah.”

Read more: Ada Saatnya Ayah...

Pemuda-Pemuda Islam Pejuang Agama Allah

ZUBAIR BIN AWWAM.
Ia adalah sosok pemuda teman diskusi Rasulullah, anggota pasukan berkuda, tentara yang pemberani, pemimpin dakwah Islam di zamannya dalam usia 15 tahun.

THALHAH BIN UBAIDILLAH seorang pembesar utama barisan Islam di Makkah, singa podium yang handal, pelindung Nabi saat perang Uhud berkecamuk dengan tujuh puluh luka tusuk tombak, donator utama fii sabilillah, mendapat julukan dari Rasulullah: Thalhah si pemurah, Thalhah si Dermawan di usianya yang masih sangat muda.

SA'AD BIN ABI WAQASH, seorang ksatria berkuda Muslimin paling berani di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Ia dikenal sebagai pemanah terbaik, sahabat utama yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam, lelaki yang disebut Rasulullah sebagai penduduk surga.

ZAID BIN TSABIT, mendaftar jihad fii sabilillah sejak usia 13 tahun, pemuda jenius mahir baca-tulis. Hingga Rasulullah bersabda memberi perintah: “Wahai Zaid, tulislah….”. Ia mendapat tugas maha berat, menghimpun wahyu, di usia 21 tahun.

USAMAH BIN ZAID, namanya terkenal harum sejak usia 12 tahun, mukmin tangguh dan muslim yang kuat, Rasulullah menunjuknya sebagai panglima perang di usianya yang ke-20 dan memimpin armada perang menggempur negara adikuasa Romawi di perbatasan Syiria dengan kemenangan gemilang.

Subhanallah…, nukilan kisah di atas bukanlah dongeng atau cerita fiktif. Mereka adalah manusia biasa yang nyata seperti kita, yang telah mengukir prestasi gemilang di masa mudanya. Merekalah adalah pemuda Islam yang mampu mengharumkan agama Allah dalam keremajaannya.

Read more: Pemuda-Pemuda...

Atur Nafas Dalam Mengasuh Anak

“Ya Allah… bagaimana kamu ini..? anak bertuah..!
“Mudah2an kamu jadi ahli syurga…“keluh ibu Safiah, kakak kandung ayah saya.

Keluhan seperti ini keluar kalau beliau sangat marah pada anaknya kalau anaknya melakukan kesalahan yang tidak disukainya Istilah bertuah umum dipakai oleh kami orang Sumatera. Artinya sehat,hebat, selalu beruntung.

Beliau terkenal dengan doanya waktu beliau marah.Semuanya kalimat yang keluar dari mulutnya doa... Dan itu dilakukannya dengan ihlas. Bukan basa basi. Sudah menjadi kebiasaan beliau setiap hari, yang susah sekali bagi kita sekarang ini untuk melakukannya.
Ini adalah warisan untuk kami semua. Legacy yang mulia, warisan yang tetap hidup biarpun beliau sudah lama wafat.
Nah bagaimana untuk bisa demikian? Apa memang perlu?

Ternyata kita dianjurkan berdoa, “Ya Allah karurniakanlah kepada kami suara yang santun, suara yang sopan dalam berbicara”
Tidak gampang memang.Kadang2 orang harus marah untuk menunjukkan bahwa dia berkuasa.Bahwa dia benar, bahwa dia hebat.

Ada kata2 hikmah yang bagus juga untuk dicatat:

“Bahwa dengan sabar, tidak marah itu mampu menjernihkan keadaan maka sabarlah”.
“Jika dengan memaafkan mampu meredakan kemarahan maka maafkanlah”.
“Jika dengan senyuman mampu merawat luka dihati maka tersenyumlah…”

Masih ada lagi hadis yang perlu kita amalkan sehari hari:
“Barangsiapa yang tidak mengasihi, maka dia tidak akan dikasihi. Dan siapa yang tidak mau memaafkan maka dia tidak akan dimaafkan/diampuni (HadisRiwayat Ahmad).

Read more: Atur Nafas Dalam...