Seputar Ananda

Mendidik Anak-Anak Untuk Pekerjaan Yang Sekarang Belum Ada

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa  anak itu dilahirkan dan dididik orang tuanya untuk menghadapi masa yang akan datang, bukan untuk masa sekarang. Bagaimana anak dapat menghadapi masa depan yang tentunya sangat berbeda jauh dengan keadaan sekarang, dan menghadapi setiap perubahan yang begitu cepat merupakan tanggung jawab orang tua.

Berikut ini ada sebuah tulisan yang menarik yang mungkin bisa menjadi bahan pemikiran dan renungan kita dalam mendidik anak untuk menghadapi masa depan yang entah seperti apa bentuknya.

Kadang-kadang saya cemburu dengan kakak-kakak saya. Mereka semua menjadi dokter. Dan saya masih ingat betapa mudahnya mereka menjelaskan pekerjaan mereka ke nenek saya di Magetan.
Saya memulai karier saya sebagai "artifical intelligence programmer".
Dan bayangkan bagaimana saya harus menjelaskan apa yang saya lakukan kepada nenek saya atau orang tua saya ketika mereka bertanya,"Gaweyanmu kae apa?" (What do you do for living?).

But perhaps this is life. Hidup berganti begitu cepat, bisnis is changing also so fast. Dan species yang paling sukses bukanlah yang paling kuat atau paling cerdas, tapi yang mampu beadaptasi dengan perubahan. Banyak pekerjaan yang kita lakukan sekarang, memang belum ada pada jaman dulu.

Saya yakin pekerjaan seperti digital advertising, social media recruiter, actuaria, underwritter, big data analyst belum ada pada jaman orang tua kita. Dan kesimpulan yang sama bisa kita tarik bahwa job yang akan dilakukan anak anak kita nanti belum ada pada hari ini. We dont even know the job that they will do in the future after they graduate from their university.

Padahal mereka harus kita didik, kita latih, kita educate sekarang.
Jadi bagaimana dong?
Ada 3 hal yang bisa kita lakukan

Read more: Mendidik Anak-Anak...

14 Nasihat Yang Bisa Ibu Berikan Untuk Anak Laki-Lakinya

Seorang anak yang memiliki akhlak yang baik terbentuk melalui bibit keturunan dan pendidikan yang baik. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Tiada seorang anak pun yang lahir, kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu baragama yahudi, nasrani, atau majusi. “ (HR. Bukhari – Muslim).

Oleh karena itu wajarlah jika Islam menempatkan perempuan dalam kedudukan yang sangat mulia, karena selain memiliki faktor yang sangat besar dalam pembentukan garis keturunan juga sangat menentukan dalam faktor pendidikan sebagai madrasah yang pertama dan utama bagi anak. Layaklah dikatakan bahwa "surga berada dibawah kaki ibu" dan "ibu adalah tiang negara."

Sudah menjadi tugas utama orang tua untuk membimbing dan memberikan pendidikan yang memadai bagi anak-anaknya baik berupa akidah, etika maupun hukum islam, dan semua itu diemban seorang ibu sebagai madrasah pertama utama untuk anak-anaknya.  Berikut ini ada beberapa nasihat yang bisa ibu berikan untuk anak laki-lakinya

Read more: 14 Nasihat Yang...

Sebuah Kesaksian Seorang Ibu : Pengaruh Hafalan Al Quran Dan Prestasi Anak

Nuha adalah anak perempuan yang sangat spesial. Sampai umur 6 tahun dia tidak bisa membedakan mana yang kanan dan kiri. Akibatnya dia selalu memakai sepatu atau sandal selalu terbalik. Sudah diajari berulang-ulang tapi tetap saja dia memasang terbalik. Bahkan kalo memasangkan sepatu adiknya pun ikutan terbalik. Soalnya pas jemput Dzaki, ibu gurunya lapor kenapa hari ini Dzaki pasang sepatunya terbalik.

Saat menulis angka dan huruf pun, nuha sering terbalik-balik. Angka tiga yang harusnya menghadap kiri dibuat menghadap kanan. Begitu juga dengan angka 5,6,7 dan 9. Nuha juga kebingungan menuliskan huruf b dan d.

Dia tahu angka dan huruf itu tapi ketika diminta menuliskannya dia selalu terbalik-balik. Dia bisa membaca dengan lancar sebelum umur 6 th. Saat tes masuk di sekolah unggulan, Nilainya masuk peringkat tiga. Cuma ketika mulai bersekolah, kelemahannya itu menjadi kendala. Dia sering mendapat nilai kecil bahkan dapat angka nol yang ditulis pake tinta merah.

Saya sudah menceritakan kespesialan Nuha kepada wali kelasnya. Cuma tidak direspon bahkan anaknya dibully habis-habisan Saat masuk semester dua beberapa minggu, saya dan suami memberhentikan Nuha dari sekolah. Sebuah tindakan yang paling ekstrim yang pernah kami ambil.

Pembullyan yang dilakukan oknum guru terhadap Nuha tidak bisa ditolerir lagi. Saya sudah menghadap ke kepala sekolah tapi tidak ada tindak lanjut. Ya sudah, Nuha diberhentikan sekolahnya. Saya dan suami tidak ingin bully yang dilakukan oknum itu membuat Nuha percaya bahwa dirinya bodoh. Anak saya tidak bodoh. Nuha pintar tapi spesial

Read more: Sebuah Kesaksian...

Kunci Keberhasilan Mengasuh Anak Remaja

Anak yang sedang memasuki usia remaja biasanya mulai menunjukkan sikap memberontak dan menuntut banyak perhatian dari kedua orangtuanya. Seiring dengan itu terjadi juga perubahan dalam diri anak-anak kita, baik anak perempuan maupun anak laki-laki.

Perkembangan otak

Memasuki usia remaja otak anak berkembang dengan sangat pesat, dari awalnya mereka berpikir konkrit (berpikir dengan cara melihat obyek), kini mereka juga bisa berpikir secara abstrak (mampu mengolah kata-kata yang diterimanya). Kemampuan analisa sintesa dan aspek-aspek berpikir anak berkembang secara penuh.

Hormon

Hormon testosteron pada tubuh anak berkembang 20 kali lebih cepat menyebabkan 20 kali lebih cepat menyebabkan terjadinya perubahan fisik. Seperti wajah berminyak, tungkai kaki memanjang, tumbuh bulu-bulu halus, hidung membesar, dan sebagainya. Sayangnya, belum tentu anak bisa menerima perubahan-perubahan ini sehingga dapat menimbulkan kekacauan emosis pada anak.

Kekacauan emosi atau emosi yang berayun, biasanya ditandai dengan banyaknya keluhan yang dirisaukan oleh anak. Antara lain ketidakpuasan terhadap dirinya, lingkungan, ditambah beban-beban pelajaran disekolah dengan jam belajar yang panjang, juga les-les tambahan yang membuaa anak sulit memiliki waktu santai. Hal ini meningkatkan rasa cemas berkepanjangan.

Ketika saat cemas itu datang, aliran gelombang otak anak, yang normalnya 10 putaran per detik, meningkat menjadi 25 putaran perdetik. Hal ini mengakibatkan sel-sel otak anak pada Pre Frontal Cortex (PFC), bagian otak yang berada di depan, persisnya di atas mata, menjadi kelelahan. Kelelahan pada PFC ini pada akhirnya akan mematikan ribuan bahkan jutaan sel pada otak anak, karena otak tidak didesain untuk menanggung stres dalam waktu lama. Lalu, bagaimana menyelamatkan anak remaja kita?

Read more: Kunci Keberhasilan...