Nasehat Bunda

Renungan Untuk Orangtua : Izinkan Anak Melewati Kesulitan Hidup

Kita tidak pernah tahu, anak kita akan terlempar ke bagian bumi Allah yang mana nanti, maka izinkanlah dia belajar menyelesaikan masalahnya sendiri.
Jangan memainkan semua peran, ya jadi ibu, ya jadi koki, ya jadi tukang cuci. ya jadi ayah, ya jadi supir, ya jadi tukang ledeng..

Anda bukan anggota tim SAR!
Anak anda tidak dalam keadaan bahaya. *Tidak ada sinyal S.O.S!*
Jangan selalu memaksa untuk membantu dan memperbaiki semuanya.

‪#‎Anak‬ mengeluh karena mainan puzzlenya tidak bisa nyambung menjadi satu, *"Sini...Ayah bantu!".*

‪#‎Tutup‬ botol minum sedikit susah dibuka, *"Sini...Mama saja".*

‪#‎Tali‬ sepatu sulit diikat, *"Sini...Ayah ikatkan".*

‪#‎Kecipratan‬ sedikit minyak
*"Sudah sini, Mama aja yang masak".*

Read more: Renungan Untuk...

Kisah Manjurnya Doa Ibu

Doa orangtua terutama doa seorang ibu merupakan doa yang sangat mustajab. Seperti dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud no. 1536).

Begitu mustajabnya doa seorang ibu, sehingga diharapkan ibu lebih berhati-hati dalam berucap, karena ucapan atau perkataan bisa menjadi doa. Apalagi jika ibu menginginkan kebaikan selalu menyertai sang buah hati, maka ibu dapat memanjatkan doa untuk kebaikan sang anak. Hal ini pun seperti dikisahkan oleh Dr Fauzia Addabbus, seorang psikolog yang amat populer di Kuwait yang pernah menulis di Twitter tentang rahasia-rahasia doa seorang Ibu jika tiap malam ia mendoakan anak-anaknya, dan ternyata efek dari twitter itu telah mengubah jalan hidup banyak orang........
Isi twitternya sebagai berikut:

" Aku menyumpahmu demi Allah wahai setiap Ibu , ...agar jangan tidur tiap malam sebelum engkau memohon pertolongan Allah dan mengabariNya bahwa engkau Ridho atas anak-anakmu seridho-ridhonya , ....dan aku menyumpahmu demi Allah agar engkau tidak menghijab/menghalangi RidhoNya kepada anak-anakmu.

Dan aku memintamu wahai para ibu agar jangan engkau tidur tiap malam sebelum kau angkat kedua tanganmu sambil menyebut satu persatu nama anak-anakmu.... dan mengabarkan kepadaNya bahwa engkau ridho atas mereka masing-masing. Begini doanya:

اللهم إني أُشهدك أني راضية عن إبني/إبنتي (.....) تمام الرضا وكمال الرضا ومنتهي الرضا
فاللهم انزل رضوانك عليهم برضائي عنهم
" Allahumma innii usyhiduka annii roodhiyah 'an ibnii/ibnatii (sebut nama anak-anakmu satu persatu) tamaamarridho wa kamaalarridho wa muntahayirridho. Fallahumma anzil ridhwaanaka 'alaihim biridhooii 'anhum"

(Ya allah aku bersaksi kepadaMu bahwa aku ridho kepada anak2ku (....) dengan ridho paripurna, ....ridho yang sempurna dan ridho yang paling komplit. Maka turunkan ya Allah keridhoanMu kepada mereka demi ridhoku kepada mereka).

Kemudian setelah berselang beberapa minggu setelah Twitter tersebut tiba-tiba aku dikejutkan oleh seorang ibu yang berkata bahwa aku telah mengubah kehidupannya secara total, ....dan sekarang dia merasa dalam kenikmatan yang tak terlukiskan karena akibat doa itu terhadap dia.... dan anak laki-lakinya yang berumur 22 tahun.

Read more: Kisah Manjurnya...

Tips Mengajarkan Anak Puasa

Sudah menjadi tanggung jawab orang tua mendidik dan membimbing anak dalam setiap langkahnya terutama dalam melakukan ibadah. Sejak usia dini, anak diajarkan untuk melakukan ibadah seperti sholat dan puasa. Walaupun ibadah yang dilakukan tidaklah sempurna, tetapi sudah dapat membuat anak mengerti akan ibadah yang wajib dilakukan nantinya, dan membuat anak terbiasa untuk melakukan tanpa adanya paksaan. Berikut ini ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan agar putra-putri Anda dapat belajar menjalankan ibadah puasa walau usia mereka masih belia.

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz; dia berkata, “Rasulullah mengutus untuk mengumumkan pada pagi hari asyura’ di wilayah kaum Anshar yang berada di sekitar kota Madinah:
من كان أصبح صائما فليتمّ صومه ومن كان أصبح مفطرا فليتمّ بقية يومه
‘Barang siapa yang pagi hari ini berpuasa, hendaklah menyelesaikannya. Barang siapa yang tidak berpuasa (sudah sarapan), hendaknya menahan (makan dan minum) sampai selesai.’

Setelah adanya pengumuman itu, kami berpuasa dan mengajak anak-anak untuk melaksanakan puasa. Kami juga mengajak mereka ke masjid dan memberikan mereka mainan dari kulit (wol). Jika mereka menangis karena lapar, kami menyodorkan mainan sampai waktu berbuka puasa tiba.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Meski anak-anak tersebut masih kecil, ternyata masih ada orang besar yang kalah dari mereka:
وقال عمر رضي الله عنه لنشوان في رمضان: ويلك! وصبياننا صيام! فضربه
“Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang yang mabuk-mabukan pada siang hari bulan Ramadhan, ‘Celaka kamu! Anak-anak kami yang masih kecil saja berpuasa!‘ Kemudian beliau memukulnya.” (Shahih Al-Bukhari, bab “Shaum Ash-Shibyan”, no. 1690)

Kasihan, ‘kan masih kecil
Di sinilah perlunya orang tua bersikap jeli. Setiap anak dikaruniai kemampuan jasmani maupun rohani yang berbeda. Oleh sebab itu, orang tua hendaklah mampu menyadari seberapa siapkah anak mereka untuk dilatih berpuasa. Tidak menutup kemungkinan seorang anak berusia 3 tahun sudah mampu menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Sebaliknya, boleh jadi ada anak berusia 6 tahun yang hanya mampu berpuasa “beduk” (latihan berpuasa sampai waktu zuhur).

Sepatutnya orang tua menanamkan kepada anak tentang rasa cinta terhadap ibadah kepada Allah. Anak yang tumbuh dengan asuhan demikian, insyaallah akan menyemai manisnya iman kala ia dewasa nanti. Bila orang tua memaksa anak untuk berpuasa di luar batas kemampuan si anak, ibadah yang sejatinya indah malah berubah jadi rasa susah.

Read more: Tips Mengajarkan...

Ada Saatnya Ayah Mengatakan "Tidak" Pada Anak

Seringkali seorang ayah tidak pernah bisa berkata tidak kepada anak-anaknya. Entah karena ingin membuktikan rasa sayangnya atau sebagai kompensasi atas kurangnya waktu bersama anak-anak. Padahal dengan selalu mengiyakan apa keinginan anak  belum tentu juga akan menjadi kebaikan bagi anak-anaknya. Adakalanya, seorang ayah harus bisa berkata "Tidak" kepada anaknya, dan ini semua tentunya untuk kebaikan sang anak.

Nah, berikut ini ada sebuah kisah tentang keteladanan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz ketika berperan sebagai ayah.

Sejarah Islam memillki dua Umar yang sangat disegani, yakni Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Umar yang pertama adalah sahabat Rasul Saw, mertua dan khalifah (pemimpin) umat Islam.

Umar bin Khattab terkenal karena kerasnya menentang Islam sebelum menjadi Muslim. Tapi setelah masuk Islam menjadi sangat tegas terhadap orang kafir dan pembela Islam yang utama. Sedangkan Umar bin Abdul Aziz adalah seorang Khalifah dari Bani Umayyah yang hidup pada era Tabi’in. 1a terkenal karena mampu menyejahterakan penduduk yang dipimpinnya. Meski negara dan masyarakat dalam keadaan sejahtera, ia tetap menjadi seorang khalifah yang sangat zuhud (sederhana).

Jika keteladanan keduanya dalam memimpin umat, sudah tidak diragukan lagi dan banyak diriwayatkan. Tapi keteladanan keduanya ketika menjadi seorang ayah bagi anak-anaknya di tengah keluarga, jarang diriwayatkan. Padahal, keduanya juga seorang ayah yang memiliki banyak keteladanan saat memerankan dirinya menjadi Bapak bagi anak-anaknya.

Ketika sedang sakit, Khalifah Umar bin Abdul Azis didatangi oleh sahabatnya, Maslamah bin Abdul Malik. Ia adalah seorang keluarga Abdul Malik bin Marwan. Maslamah mengingatkan Umar bin Abdul Aziz dengan mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya engkau telah membuat anak-anakmu miskin. Padahal harta negara berlimpah.”

Read more: Ada Saatnya Ayah...