Nasehat Bunda

Cara Mengajarkan Anak Shalat Berjamaah DI Masjid

Seringkali orangtua mengajak anaknya ketika shalat di masjid dengan tujuan untuk mengajari anak-anaknya agar terbiasa shalat berjamaah ketika sudah dewasa nanti. Dan hal ini hukumnya diperbolehkan. Dengan melihat secara langsung dan melakukannya secara langsung sejak usia dini, maka apa yang mereka lakukan di masjid seperti shalat bersama, melakukan dzikir, membaca alquran bersama-sama akan memberikan pengaruh yang kuat dalam jiwa mereka, sehigga tanpa disadari pengaruh tersebut akan tetap tertanam hingga mereka beranjak dewasa.

Hanya saja, kadang anak-anak suka sekali membuat keributan di mana saja mereka berkumpul dengan dengan teman-temannya, tidak terkecuali ketika mereka berada di masjid. Untuk itu, orangtua seharusnya memberikan pengarahan agar anak dapat menjaga adabnya ketika berada di dalam masjid, sehingga tidak mengganggu orang lain yang melaksanakan shalat di masjid tersebut. Akan tetapi bila pengarahan tersebut tidak dihiraukan maka  wajib bagi bapaknya atau walinya untuk mengambil tindakan (menghukumnya) dan mendidiknya… Atau wajib bagi petugas dan pelayan masjid untuk mengusir mereka… Seperti inilah praktek kisah yang disebutkan oleh Alhafizh Ibnu Katsir: “Dahulu Umar bin Khottob radhiallahu ‘anhu bila melihat anak-anak bermain di masjid, memukuli mereka dengan pecut, dan setelah Isya’ beliau memeriksa masjid, sehingga tidak menyisakan satu orang pun. (Tsamarul Mustathob 1/761)

Read more: Cara Mengajarkan...

Anak Adalah Aset Bukan Beban!!

Bila Anda merasa lelah mendidik anak, maka bisa jadi itu adalah bukti bahwa anda belum menikmati proses dan hasil mendidik anak. Ketika Anda merasa bahagia
setelah melihat anak kita sukses (sarjana, dapat kerja, dll), maka yang harus Anda ingat itu bisa jadi terlalu lama. Apalagi bila Anda memiliki banyak  anak.

Anak-anak merupakan aset. Bukan beban. Anak sholeh yang bisa mendoakan orang tuanya, itu aset. Ketika kita meninggal, maka yang paling berhak mensholatkan kita adalah anak kita. Itu aset. Sholat jenazah itu isinya doa semua. Anak itu kekayaan di dunia dan akhirat.

Rasululloh bersabda: “Kamu (anak lelaki) dan hartamu milik orang tuamu.”

Artinya, walaupun sudah menikah, orang tua punya hak atas harta kita. Anak-anak yang kita dorong untuk menghafal Al Qur’an 30 juz kelak di hari kiamat yang mendapat keistimewaan bukan hanya anak itu, tapi juga orang tuanya (mahkota).

Maka, hilangkan anggapan bahwa anak-anak itu beban. Anak-anak kita tidak menumpang hidup pada kita. Bila Anda menganggap bahwa anak Anda menumpang hidup pada Anda berarti Anda sombong. Bayi lahir sudah membawa rezekinya. Yang menjadi masalah adalah kita belum “percaya” pada Allah.

Kebanyakan orang tua sekarang tidak menginginkan punya anak banyak karena biaya pendidikan mahal. Itu pemikiran yang sangat logis. Tapi itu juga berarti imannya belum berperan. Kalau anak adalah aset, maka kita ingin punya sedikit atau banyak?

Read more: Anak Adalah Aset...

Jika Ingin Punya Anak Hafidz Quran, Bisa Mencontoh Ibu Yang Satu Ini...

Setiap orang tua pasti menginginkan memiliki anak-anak yang hafal Al Quran. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: ”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim)…

Begitu pun juga dengan Rasya el-Ghayyar yang memiliki 3 anak, kini ketiga putranya telah menjadi hafizh termuda di dunia. Mereka adalah Tabarak, Yazid dan Zeenah. Saat Rasya hamil, Ia melakukan  sedikitnya 3 hal yang terkait langsung dengan harapan besar yang ia ingin  capai yaitu memiliki anak penghafal Qur’an. Apa saja yang dilakukan oleh ibu yang satu ini? Simak berikut ini...

1. Banyak Tilawah

Doktor yang menjadi dosen di Batterje Medical College itu biasa membaca  Al Qur’an sejak sebelum menikah. Ketika ia hamil, kebiasaan tilawah itu  terus ia lakukan. Bahkan bisa lebih banyak dari hari-hari sebelumnya.

2. Menghafal Al Qur’an

Tidak hanya melakukan tilawah, Rasya juga berusaha untuk menambah  hafalannya saat ia mengandung baik anak pertama (Tabarak), anak kedua  (Yazeed), ataupun anak ketiga (Zeenah).

Read more: Jika Ingin Punya...

Menyiapkan Anak Laki-Laki Ketika Mimpi Basah

Tahukah anda, bahwa anak laki-laki yang belum baligh dijadikan sasaran tembak bisnis pornografi internasional ?
Mengapa demikian ?
Karena anak laki-laki cenderung menggunakan otak kiri dan alat kemaluannya berada di luar. Di berbagai media (Komik, Games, PS, Internet, VCD, HP), mereka menampilkan gambar-gambar yang mengandung materi pornografi, melalui tampilan yang dekat dan akrab dengan dunia anak-anak.

Dengan berbagai rangsangan yang cukup banyak dari media-media tersebut, dan asupan gizi yang diterima anak-anak dari makanannya, hormon testosterone di dalam tubuh bergerak 20 kali lebih cepat. Sehingga, testis mulai memproduksi sperma. Dan kantung sperma menjadi penuh. Karena itu, anak laki-laki kita dengan mudahnya mengeluarkan mani lebih cepat dari yang lainnya dan kadang-kadang, dengan banyaknya ‘rangsangan’ dari berbagai media tersebut, mereka tidak perlu dengan bermimpi !

Menyiapkan anak kita memasuki masa baligh adalah tantangan besar bagi kita sebagai orang tua. Kelihatannya sepele, namun sangat penting bagi mereka untuk mengatahui seputar masa baligh agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang memiliki seksualitas yang sehat, lurus dan benar.

Memang banyak kendala yang kita hadapi : tabu & saru, bagaimana harus memulainya, kapan waktu yang tepat untuk memulai, sejauh mana yang harus kita bicarakan, dan lain-lain. Memang tidak mudah untuk mendobrak kendala-kendala tersebut, namun jika kita tidak melakukannya sejak dini, bisa jadi mereka mendapatkan informasi-informasi yang salah dari sumber yang tidak jelas.

Read more: Menyiapkan Anak...