Nasehat Bunda

Anak Yang Sering Berinteraksi Dengan Ayah Memiliki IQ Lebih Tinggi

Karena faktor kesibukan dari ayah, kadangkala membuat anak hanya berinteraksi dengan sang ibu sepanjang hari. Dari mulai anak bangun di pagi hari hingga tidur di malam hari, semuanya dilakukan bersama ibu. Sehingga secara tidak langsung anak sudah merasa nyaman bersama ibu walau tanpa kehadiran sang ayah. Walau anak merasa nyaman dengan kehadiran ibu, namun anak tetap membutuhkan interaksi yang intensif dengan sang ayah. Bimbingan langsung dari ayah dalam proses belajar bisa berdampak positif pada perkembangan anak, baik itu perkembangan fisik, kognitif, emosi, dan kebiasaan anak.

Beberapa penelitian telah menyebutkan bahwa ayah yang sering berinteraksi dengan anak dapat membuat anak memiliki IQ yang lebih tinggi dibandingkan bila anak jarang berinteraksi dengan ayahnya.

Berikut ini ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh ayah agar bisa dekat dengan sang anak:

Read more: Anak Yang Sering...

Tip Untuk Orangtua Saat Memenuhi Permintaan Anak

Selalu mewujudkan semua permintaan anak justru membahayakan anak. Perhatikan 15 hal ini untuk memenuhi permintaan anak.

Gaya orang tua selalu mewujudkan apa yang anak inginkan itu membahayakan anak

Mendidik anak dengan selalu mewujudkan keinginannya akan merusak fitrah/naluri baik anak, melenyapkan keistiqomahan, membasmi kewibawaan dan keberaniannya. Sehingga, anak tumbuh dan terbiasa hidup diwujudkan keinginannya, royal, bersuka ria, egois, dan hanya mementingkan diri sendiri.

Read more: Tip Untuk...

Mengatasi Rasa Takut Anak Sesuai Syariah

Takut hantu.. Kata-kata itu tidak hanya sering diucapkan anak-anak. Tapi orang dewasapun bisa takut juga dengan hantu. Yang aneh, mengaku takut hantu, tetapi masih juga menyenangi tontonan yang menyeramkan, mempercayai hal-hal mistis. Rasa takut anak pada hantu, bagaimanapun harus mendapat perhatian khusus dari orang tua. Karena bila ketakutan sang anak tetap terpelihara, tak hanya membentuk mental penakut pada diri anak tetapi juga dapat mengurangi kesempurnaan tauhid yang sangat kita harapkan terbentuk pada diri sang anak.

Seorang anak yang masih dalam fase pertumbuhan seringkali mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan kadang disertai pula daya imajinasi yang tinggi. Oleh karena itu, ketika ia mendengar cerita tentang berbagai macam hantu entah dari berbagai media massa, atau dari orang-orang di sekitarnya, hal tersebut bisa menimbulkan rasa takut yang berlebihan. Apalagi bila sang anak pernah mengalami trauma karena ditakut-takuti temannya. Sehingga anak menjadi takut bila sendirian atau takut ke kamar mandi sendiri. Permasalahan seperti ini harus segera diatasi, karena hal ini sangan berkaitan dengan taukhid anak.

Read more: Mengatasi Rasa...

Hati-Hati Dengan Empat Kalimat Ini Untuk Anak

Mungkin banyak sekali kalimat atau kata-kata yang tidak seharusnya orang tua ucapkan terutama untuk para mama kepada putra putri mereka. Tetapi kadang kala kalimat itu tidak sengaja meluncur begitu saja tanpa mama tahu akibatnya bagi sang anak. Apalagi ketika mama dalam kondisi sedang sensitif atau lelah karena sibuk seharian bekerja. Kalimat-kalimat apa saja yang sebaiknya Anda hindari ketika Anda sedang berbicara dengan anak Anda terutama ketika Anda sedang dalam kondisi kesal.

1. "Jangan Ganggu Mama"
Bagi anak-anak, perhatian orang tua adalah segalanya. Inginnya semua waktu orangtua khususnya mama hanya untuk mereka. Sehingga ketika sedikit saja anak-anak merasakan terabaikan oleh mama yang lebih sibuk menyelesaikan pekerjaannya, maka sebisa mungkin anak-anak akan mencari cara agar mama kembali memperhatikannya. Nah, disaat itulah mungkin mama akan mengucapkan kalimat , “Jangan ganggu Mama!”
Jika terbiasa mendengar kalimat ini, anak-anak akan merasa ditolak dan belajar benar-benar tidak ‘menyentuh’ Anda lagi. Parahnya, perasaan ini bisa mempengaruhi perkembangannya. Ia menjadi malas berbagi cerita dengan Anda. Ia bisa berpikir, “Mama kan, tidak mau diganggu.
Lantas kalimat apa yang sebaiknya diucapkan Anda mungkin bisa mencoba untuk memberi peringatan kepada anak-anak sebelum mulai bekerja, “Baik anak-anak, sekarang mama perlu waktu sendiri. Kalau mama tidak diganggu, akan lebih cepat selesai dan kita lebih cepat main bersama.”

2. "‎Kamu  itu‬…"
Bagi anak-anak, julukan di masa kecil sepertinya biasa saja. Baik itu julukan yang negatif ataupun positif tanpa disadari, label tersebut memberikan dampak kepada anak tersebut. Dan kadang kala orang tuapun sering memberi label kepada anaknya sesuai dengan kelebihan atau kekurangan yang dimiliki.
Label negatif bisa mereka yakini dan akhirnya menjadi kenyataan. Anak yang mendapatkan label "pemalu" misalnya, butuh waktu lama hingga ia dewasa untuk menghapus keyakinan bahwa dirinya pemalu. Namun sebaliknya, label positif juga menjadikan anak dan lingkungan sekitar memiliki ekspektasi tertentu terhadap anak tersebut. Bisa jadi label ‘pintar’ membuat seorang anak menjadi merasa tertekan ketika tidak menjadi rangking 1 di kelasnya.
Untuk itu, saat menghadapi ulah anak-anak, sebaiknya hindari menggunakan kata sifat.

3."Jangan Nangis‬!"
Anda pasti pernah mengalami perasaan jengkel ketika anak anda menangis keras pada saat mainannya rusak, atau keinginannya tidak terpenuhi. Anak-anak mudah kecewa dan seringkali tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya, dan semuanya bisa berujung dengan tangisan. Dan parahnya, ketika anda melarangnya untuk tidak menangis, maka tangisannya akan semakin menjadi-jadi. Daripada melarangnya, lebih baik bila Anda bicara kepadanya dengan memastikan bahwa Anda mengerti perasaannya.

4. "Kaya diadong‬."
Anda pikir dengan membandingkan, anak akan terpacu dan berubah. Sebaliknya, memaksakan anak melakukan hal yang ia belum siap (atau tidak disukai) seringkali menjadi bumerang. Selain anak justru cenderung melawan permintaan Anda, anak bisa juga merasa rendah diri hingga kehilangan jati dirinya, karena dia merasa dirinya tidak sesuai harapan Anda.
Padahal Anda bermaksud baik yaitu mengusahakan anak Anda memenuhi tahapan perkembangan. Tidak ada individu yang sama, begitupun seorang anak. Mereka unik dan memiliki waktu masing-masing untuk mencapai tahapan perkembangannya.
Bisa saja ia lambat di satu bidang namun lebih cepat di bidang lain. Terkadang bisa lambat di semua hal, namun akhirnya mencapai beberapa tahapan bersamaan. Daripada membandingkan, berilah dia semangat dan penghargaan ketika berhasil melakukan sesuatu.

Sumber: parenting.co.id