Seorang bapak mengaku tersentak ketika ditanya putrinya, benarkah di masa kecilnya ia suka rewel sehingga membuat ayah marah dan memukulinya? Untuk beberapa lama ayah tak kuasa menjawab. Suara anaknya didengarnya lebih dari sekedar pertanyaan, tapi gugatan.

"Ayah tidak ingat pasti. Mungkin ya, mungkin tidak," katanya tergagap. "Coba kau tanya pada ibumu. Tapi kalau benar, bukankah Ayah sudah pernah minta maaf. Ayah dulu tidak mengerti kalau memukul itu salah?" kata Ayah. Suaranya tertahan rasa pedih yang teramat dalam.

Selama beberapa hari pertanyaan putrinya mengganggu pikirannya. Situasi itu bahkan membuatnya tidak berani menatap wajah putrinya yang kini telah beranjak dewasa. Makhluk yang dulu kecil itu kini seolah sedang mengadilinya.

 

"Ya, sudahlah. Saya percaya anak-anakmu pasti telah memaafkanmu. Insya Allah," kataku menghibur.
"Anak-anakku mungkin telah memaafkan aku. Tapi aku tak akan pernah bisa menghapus luka hatinya."
"Bagaimanapun kamu seorang ayah yang baik karena telah bersedia meminta maaf pada anak-anakmu. Yang penting kini mereka tahu kamu mencintai mereka. Saya justru iri karena kamu pandai mengungkapkannya, sehingga anak-anakmu tahu kecintaanmu pada mereka."
Apa anehnya?!"
"Bukan aneh, tapi luar biasa! Tentu saja semua orangtua menyayangi anak-anaknya. Tapi kasih sayang itu tersembunyi, karena memang tak pernah dinyatakan, tak pernah dikomunikasikan. Anak-anak baru tahu setelah ibu dan bapaknya meninggal dunia. Ndak gampang lho menyatakan kecintaan kita pada anak-anak."

Kini pikiran saya melayang pada kepiawaian Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam mengungkapkan kecintaan beliau pada putri dan cucu-cucunya. Lewat perkataan dan perbuatan. Pada saat Rasul melihat Fatimah datang di sebuah majelis, beliau segera bangkit menyambutnya. Kadang Rasul mencium tangan putrinya dihadapan para sahabatnya, sebagai ungkapan kasih sayang sekaligus penghormatan. "Bila aku menrindukan bau surga, aku mencium Fatimah," katanya.

Memang kasih sayang tidak bisa disimpan saja di dalam hati. Kasih sayang mesti diungkapkan, dikomunikasikan. Sejarah mengabadikan ketika Rasulullah memanjangkan sujudnya karena dua cucunya bertengger di punggungnya. Atau memperpendek bacaan shalatnya karena tidak mau membuat seorang ibu gelisah mendengar tangis putranya.

Sejarah juga mengabadikan ketika suatu saat Umar bin Khattab melihat Nabi tengah merangkak di tanah. Di punggungnya duduk dua bocah. Umar pun berkata,"Hai bocah, alangkah indahnya tungganganmu!" Yang ditunggangi pun menyahut,"Alangkah indahnya para penunggangnya!"

"Sejujurnya, saya terlambat mengetahui keteladanan Rasulullah itu. Waktu itu sebagai orangtua saya tidak mengerti apa-apa tentang bagaimana seharusnya mendidik anak. Aku pikir cukup dengan membuatnya takut," kata sahabatku masih dengan suara penyesalan.

"Ya sudahlah, aku juga begitu kok. Sejujurnya, kita memang sudah lama disebut Islam, tapi sebenarnya baru saja memeluk Islam," aku bergurau, tapi gagal membuat sahabatku tersenyum.

"Alhamdulillah, sudah dua tahun ini istriku berhenti bekerja," suara sahabatku tiba-tiba terdengar bertenaga, penuh gairah.
"Oh ya?! Terakhir saya dengar jadi kepala cabang?!"
"Ya. Ia berhenti atas kemauannya sendiri."

Dia kemudian bercerita bagaimana keputusan itu diambil istrinya. Diawali dengan kekagetan ketika didapatinya dua putranya berkelakukan buruk, di antaranya merokok di usia masih terbilang anak-anak.

Kini saya teringat pada ucapan orang bijak bahwa anak yatim bukanlah yang telah ditinggal orangtuanya dalam keadaan hina. Sesungguhnya anak yatim adalah yang tidak bisa dengan ibunya yang selalu menghindar darinya, atau ayahnya yang selalu sibuk dan tidak ada waktu bagi anaknya.

Perhatian. itulah kata kuncinya. Dan bentuk perhatian tertinggi orangtua kepada anaknya adalah memberikan pendidikan yang baik. Mengabaikannya adalah kesalahan orangtua terhadap anak. Adalah sebuah bentuk kejahatan terhadap anak bagaimana mesti menjalani hidup, misalnya mengajari shalat. Meski kesibukannya itu untuk mencari nafkah bagi anak-anaknya.

"Tapi tidak semua orang bisa mengambil posisi seperti istrimu. Banyak ibu yang terpaksa harus bekerja di luar rumah untuk menafkahi keluarganya.
"Ya, saya paham, dan saya beruntung! Saya mensyukuri itu!"
"Apapun alasannya, kondisi tanpa ibu membuat anak berada dalam situasi seolah dipisahkan dari ibunya, justru di masa awal kehidupannya yang sangat berharga, di usia emasnya. Sayang kalau ibu dan ayah tak sempat bercanda berkumpul, berbagi cerita, dan ngobrol dalam kehangatan."

"Saya pernah membaca, anak-anak dalam situasi itu cenderung menderita kecemasan, rasa tidak tenteram, rendah diri, kesepian, agresif, bersikap negatif sehingga cenderung melawan orangtua dan pertumbuhan kepribadiannya terlambat."

"Karena pentingnya kasih sayang itulah Allah meletakkan perintah memelihara kasih sayang dalam keluarga sebagai perintah kedua setelah taqwa. Allah berfirman: "...... Bertakwalah kamu kepada Allah, tempat kamu saling bermohon, dan peliharalah kasih sayang dalam keluarga." Itu ayat pertama surat An-Nisaa.

Kini aku terdiam dan bertanya-tanya, sebenarnya ayah macam apakah aku ini??

Oleh: Zainal Arifin Emka/Ketua Stikosa-AWS