Pendidikan bagi anak sangatlah penting bagi masa depannya. Diperlukan peran orang tua, untuk mencari sekolah anak, terutama pendidikan Taman Kanak-Kanak ( TK ) dan Sekolah Dasar ( SD ), merupakan " investasi jangka panjang " bagi masa depan anak-anak. Orang tua tidak akan sembarangan memilihkan sekolah, sekolah terbaik menjadi pilihan bahkan yang termahalpun  dilakoni.

Banyak ragam pilihan sekolah yang bisa dipilih orang tua, mulai dari sekolah unggulan, sekolah internasional, sekolah berbasis agama, sekolah dengan asrama, sekolah alam, sekolah bilingual atau kombinasi antara dua dan tiga kategori. Lantas  mana yang harus dipilih?

Psikolog dan pengamat pendidikan anak, Seto Mulyadi, mengatakan bahwa saat ini muncul berbagai macam sekolah dengan metode pengajaran yang beragam pula. Ini membuat pertimbangan orang tua untuk memilih sekolah tidak lagi sederhana. Ragam sekolah yang muncul sebenarnya bermaksud mencoba menjawab harapan orang tua yang tidak terpenuhi dari sekolah publik yang sudah ada sebelumnya.

Pada umumnya sekolah-sekolah alternatif baru menawarkan konsep yang sama, yaitu mengedepankan kemampuan verbal anak dan mengasah kreativitas anak. Kak Seto mengingatkan untuk tidak teriming-imingi promosi program unggulan sekolah yang sangat beragam, orang tua harus memegang prinsip " Para Orang Tua harus memilih sekolah untuk Anak, bukan Anak untuk sekolah. Ini  yang utama dan penting bagi orang tua", kata Kak Seto kepada kompas.com, Sabtu (12/1/2013)

Kak Seto mengatakan, orang tua bisa menekan kemungkinan dampak anak menjadi enggan bersekolah atau school phobia. Mengenali kebutuhan anak dan mencarikan sekolah yang membuat anak bisa belajar dengan menyenangkan dan tidak stres. Anak  perlu dilibatkan dalam mencari sekolah.

Beberapa Contoh Konsep Sekolah yang bisa dijadikan pilihan adalah :

  1. Pada usia kanak-kanak, memilih sekolah yang tidak menjauhkan anak-anak dari Dunia Bermain. Pendidikan untuk anak-anak dibawah usia enam tahun, adalah pendidikan yang menstimulasi perkembangan anak, baik fisik ( motorik kasar maupun halus ), mental (kognitif), emosi, sosial dan kemampuan berbahasa.
  2. Pilih sekolah yang guru-gurunya memiliki "unconditional love", artinya guru-guru di sekolah itu bisa menerima setiap anak apa adanya, dan bisa mengembangkan lingkungan yang disiplinnya positif. Sekolah tidak menuntut anak di luar kemampuannya, berusaha mengerti anak, mendorong anak untuk bisa dan bangga atas kemampuannya. Bukan dengan marah-marah atau memaksa anak untuk menyelesaikan lembar tugas.
  3. Sekolah yang menggunakan konsep belajar melalui pengalaman ( experiantal learning ), memberikan stimulasi pada anak melalui pengalaman bermain dan eksplorasi langsung terhadap dunia di sekitarnya. Sekolah ini biasanya mengajak murid-muridnya langsung terjun ke alamuntuk mempelajari apa yang hendak dipelajari, seperti belajar tentang sapi dengan melihat langsung seekor sapi. Atau kalau belajar menggambar, dilakukan di halaman atau alam terbuka. Biasanya konsep seperti ini bisa ditemukan di sekolah-sekolah alam
  4. Sekolah mengedepankan konsep belajar aktif ( active learning ), dengan melatih anak untuk selalu kreatif dengan menciptakan berbagai kreasi dari benda-benda di sekitarnya. Contoh kardus bekas tisu gulung, karton susu, kaleng bekas minuman.

Satu lagi pertimbangan yang tak kalah penting adalah faktor biaya. Banyak orangtua rela membayar mahal agar anaknya memperoleh pendidikan yang terbaik. Tapi, tak ada salahnya tetap memperhitungkan apakah biaya yang Anda keluarkan akan sesuai dengan apa yang didapat anak bila bersekolah disitu. Uang sekolah yang tinggi, misalnya, tentu rasanya tak sepadan bila fasilitas pendidikan di sekolah tersebut kurang memadai. Perlu dibuat catatan, Sekolah yang baik tidak harus selalu gedungnya mentereng, atau alat-alatnya serba lengkap. ekolah yang baik adalah yang bisa mendorong kemandirian anak, dan mengembangkan kemampuan sosial maupun kematangan emosinya.