Suatu ketika anak bermain sepeda, mereka saling mendahului karena jalan yang dilaluinya sempit. Salah satu dari mereka jatuh, teman yang lainnya mentertawakan sambil menunjuk-nunjuk dan tidak segera menolong, sementara anak yang terjatuh menangis kesakitan.

Cerita lain yang terjadi di rumah, seorang anak kecil tiba-tiba menangis disertai suara piring pecah. Rupanya si anak membawa piring dengan maksud akan mengembalikan ke tempat piring di dapur, namun karena tangannya yang kecil belum mampu menopang piring dengan kuat maka piring yang dibawa terempas dan terjatuh. Si ibu datang, bukannya ingin menghibur si anak malah memberikan ucapan yang tidak menenangkan si anak, "kamu sih ceroboh tidak hati-hati, bawa piringnya tidak benar, piring kesayangan ibu habis pecah semua."

Aduuuuhh.... betapa sedihnya perasaan anak. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, sudah kaki terluka dimarahin pula. Dari 2 contoh peristiwa tersebut, banyak hal yang bisa dipahami dalam mendidik anak. Namun, ada satu hal yang akan kami tunjukkan bahwa betapa kita sering tidak peduli dengan perasaan dan kondisi orang lain, bahkan kepada orang terdekat kita, bisa suami, istri, anak-anak kita sehingga sikap tersebut biasa disebut sikap / perilaku yang tidak atau kurang empati.

Permasalahannya sekarang adalah bagaimana empati bisa tumbuh di keluarga kita, terutama pada anak-anak. Empati anak tentu akan tumbuh subur jika disemai pada lahan yang penuh dengan empati, artinya anak mendapatkan contoh, teladan, mendapat perlakuan yang penuh empati, kesempatan untuk bersikap empati dari orang terdekat atau keluarga terutama ayah dan bunda bukan sebaliknya.

Arti empati menurut kamus psikologi adalah pemahaman, pikiran dan perasaan-perasaan orang lain, dengan cara menempatkan diri ke dalam kerangka pedoman psikologis orang tersebut tanpa sungguh merasakan apa yang dialami oleh orang yang bersangkutan.

Ada beberapa hal yang bisa menumpuk rasa empati anak:

Pertama, Ajak anak untuk mengerjakan "proyek berbuat kebaikan" dengan cara menunjukkan macam-macam perbuatan baik. Ajak anak untuk berlomba dengan anggota keluarga yang lain mengerjakan perbuatan baik. Misalnya mengambilkan gelas untuk minum adik, membukakan pintu untuk tamu, memberi uang pada pengemis, dan lain sebagainya. Mintalah anak mencatat perbuatan baik yang sudah dilakukan atau ditulis di papan tulis sehingga anggota keluarga yang lain tahu. Evaluasi setiap hari dan berilah hadiah untuk pemenangnya meski hanya dengan pelukan dari orang tua.

Kedua adalah dengan bersandiwara. Tahukan ayah bunda bahwa ketika anak bermain sesungguhnya mereka sedang belajar. Dan ketika belajar maka kita harus mendampingi sehingga anak dapat menemukan apapun yang akan mereka pelajari.

Salah satu permainan yang perlu dikenalkan dan dioptimalkan pada anak untuk menumbuhkan empatinya adalah bermain peran atau drama-dramaan atau bermain sandiwara. Ketika bermain sandiwara adakalanya anak sebagai sutradaranya/dalangnya, sementara pemainnya adalah boneka, mainan dan benda apa saja yang ditemui, ini disebut peran mikro. Adakalanya anak sebagai pemerannya, anak sebagai pelakunya dengan memerankan tokoh yang dia kenal misalnya jadi polisi, dokter, guru, ibu, anak dan seterusnya yang disebut bermain peran makro.

Aspek empati yang dapat digali dari bermain peran / bersandiwara adalah kemampuan anak untuk melihat sudut pandang orang lain lebih baik, bermain dengan teman sebaya lebih bagus, kegiatan kelompok lebih bagus, kerjasama lebih baik mampu meramalkan kecenderungan dan hasrat anak lain lebih baik.

Tentu manfaat itu akan didapat jika kita sebagai orang tua menunjukkan peran-peran yang baik dan peran-peran yang berpengaruh, tidak baikĀ  bagi dia sendiri maupun orang lain.

Satu hal lagi kegiatan menyenangkan yang bisa memupuk empati adalah mengajak mereka berjalan-jalan sambil melihat hal-hal yang dapat menyentuh rasa kemanusiaan misalnya pada tukang asongan, pengemis jompo, orang gila yang mengais makanan di tempat sampah dan sebagainya. Dengan demikian kita belajar bersama anak tentang arti sebuah kepedulian.