Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda,"fitrah manusia ada lima yaitu sunatan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur kumis" (HR Bukhari).

Sunat atau khitan atau secara medis disebut circumsisi adalah tindakan operasi kecil berupa memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari penis.

Biasanya dilakukan tindakan sirkumsisi dengan beberapa alasan, diantaranya adalah karena indikasi medis, tindakan pencegahan untuk masa depan dan alasan agama/keyakinan. Bagi kaum muslim, maka poin ketiga merupakan faktor terbesar untuk memilih dilakukan tindakan sirkumsisi.

Ketika sirkumsisi dilakukan maka tahapannya adalah pertama dilakukan pembiusan lokal dengan menyuntikkan obat bius secara lokal di area penis dengan maksud hanya area penis saja yang terbius (tidak terasa sakit). Berikutnya, membuka kulit atau penis untuk lalu dibuka dari perlekatan dan dibersihkan kotoran didalamnya yang disebut smegma yang seringkali sangat melekat pada kulit dasar penis dan dihasilkan oleh kelenjar keringat. Smegma ini yang jika tidak dibersihkan ada yang menyebutkan hal yang paling buruk adalah meningkatkan risiko kanker penis. Berikutnya adalah pemotongan kulit atas penis dan penjahitan.

Subhanalloh, selain bisa melaksanakan syariat Islam, sirkumsisi mempunyai efek yang sangat besar terhadap kebersihan diri seorang muslim. Maka saat ini semakin pahamnya orang-orang akan keuntungan sirkumsisi maka tidak hanya didominasi pemeluk Islam saja tetapi pemeluk agama lain pun sudah umum untuk sirkumsisi juga, bahkan orang dewasa yang semasa kecil belum sirkumsisi, tidak ada kata terlambat untuk melakukannya.

 

Ada satu hal yang mungkin banyak anak takutkan ketika sirkumsisi, yaitu rasa sakit sewaktu sirkumsisi. Sebenarnya tindakan sirkumsisi tidaklah menimbulkan rasa sakit karena sesuai tahapan yang telah disebutkan diatas. Yang pertama dilakukan adalah anestesi lokal kemudian diberikan obat anti nyeri sesudahnya. Rasa sakit hanya dirasakan sekitar 10-20 detik ketika dokter menyuntikkan obat anestesi lokal, sesudah itu akan terbebas dari rasa nyeri.

Tingkatan raa nyeri yang dirasakan masing-masing anak pasti berbeda-beda. Tetapi jika kita amati bersama, ketika di sunatan masal misalnya, perilaku anak-anak ketika sirkumsisi memang berbeda-beda. Ada yang tenang tak bersuara sedikitpun, ada pula yang mengaduh hanya pada saat anestesi lokal, tetapi banyak juga yang berteriak-teriak sepanjang proses sirkumsisi dari awal sampai akhir. Apa yang membedakan masing-masing respon anak terhadap sirkumsisi?

Sesungguhnya yang mendominasi rasa nyeri itu terutama adalah rasa takut atau khawatir berlebihan baik itu pada diri anak sendiri atau bisa juga dari para pendamping anak. Maka yang perlu dikondisikan untuk anak ketika akan sirkumsisi adalah usahakanlah agar sirkumsisi adalah tindakan yang diinginkan anak, tunggulah sampai anak yang meminta sendiri untuk sirkumsisi. Ini bisa dilakukan dengan cara orangtua atau pengasuhnya mendapatkan informasi yang benar tentang sirkumsisi, bagaimana prosesnya, dan apa manfaatnya. Sehingga dengan informasi yang benar maka orangtua akan memberikan efek sugesti positif juga kepada anak, bisa mendukung dan membesarkan hati anak ketika akan sirkumsisi. Keyakinan orangtua yang positif juga akan dirasakan oleh anak sehingga dia pun akan berespon positi terhadap sirkumsisi.

Sering pertemukan anak dengan saudara atau temannya yang sudah disirkumsisi terutama anak-anak berani yang bilang bahwa sirkumsisi itu tidak sakit, minimalisir bertemu dengan anak yang menyatakan sirkumsisi itu tidak menyenangkan. Bisa dipastikan pasti anak menjadi yakin bahwa sirkumsisi itu tidak sakit.

Hindari menakut-nakuti anak dengan peristiwa sirkumsisi, misal "ayo nangisnya berhenti, nanti disunat lho!!" atau "Tidak boleh nakal, nanti disuntik pak dokter!". Kalimat-kalimat ini akan sangat efektif memberi keyakinan negative bahwa sirkumsisi adalah peristiwa menakutkan yang harus dihindari. Inilah yang memberikan efek trauma untuk takut bertemu dokter sehingga sampai usia SMP masih berani untuk sirkumsisi, dan disentuh sedikit saja sudah berteriak-teriak karena bayangannya sangatlah buruk akan hal-hal yang berhubungan dengan kata Dokter dan segala perangkatnya.

Maka bertanyalah pada anak kapan dia mau mau sirkumsisi, jika takut maka faktor apa yang membuatnya takut dan lain sebagainya. Kita buat agar sirkumsisi ini menjadi peristiwa menyenangkan sehingga bisa sirkumsisi dengan ceria.

Oleh dr. Hilda Wardani