Pagi hari, seorang anak terbangun dari tidurnya. Didapatinya ibunya sedang membuat sarapan di dapur. Ia pun mengikuti langkah ibunya. Setelah sarapan usai, ia dimandikan oleh ibunya. Rapi, harum, dan bersih ia kini. Perutnya pun sudah terisi penuh. Ingin sekali ia bermain di luar rumah, entah bermain sepeda atau sekadar berlari-lari menghirup udara segar. Namun, ibunya tak mengizinkan. Dengan dalih tak bisa mengawasi anaknya bermain di luar sebab pekerjaan rumah masih ‘menggunung’. Anak tersebut kembali duduk di dalam rumah, dihidupkanlah TV oleh ibunya agar anak tersebut dapat duduk manis selama ibunya menyapu, mengepel, mencuci piring, dan memasak. Sesekali ia mengikuti langkah ibunya yang sedang ‘bekerja’, ia pun berusaha membantu pekerjaan ibunya. Namun sang ibu melarangnya dengan alasan pekerjaannya akan semakin lama jika anaknya ikut serta. Maka, kembalilah sang anak ke depan layar TV. Usai sudah pekerjaan ibunya, ibunya pun kini duduk di sebelah anaknya, HP tergenggam manis di tangannya. Sang anak pun senang. Ia mengeluarkan berbagai mainan untuk bermain bersama ibunya. Ibu berusaha bermain bersama sang anak, meski harus diselingi dengan ‘ketik-ketik’ di layar HP untuk membalas chat whatsApp, mengurusi jualan on line, atau sekadar upload foto terbaru di media sosial dan ber’haha-hihi’ dengan teman-teman dunia maya.

Di rumah yang lain, seorang anak terbangun tanpa kehadiran ibu di sampingnya. Ibunya telah berangkat ke kantor. Segala keperluannya telah disiapkan oleh seorang ‘Mba’ yang akan menemaninya sepanjang hari. Sang ibu akan pulang malam sekali. Dengan sisa-sisa tenaganya, berusaha membacakan sebuah cerita pengantar tidur untuk buah hatinya. Meski pikirannya masih melekat pada tugas-tugas kantor yang menumpuk.

Ibu-ibu, adakah yang mengalami kejadian-kejadian mirip dengan kisah di atas?

Dari kedua contoh kisah di atas, dapat kita ketahui bersama bahwa anaklah yang lebih banyak membersamai hari-hari sang ibu. Ia membersamai kegiatan ibunya dan bermain sendiri, tanpa arahan, tanpa bimbingan. Mau jadi apakah ia kelak? Mau berkarakter bagaimanakah ia nanti? Sang ibu masih buram menjawabnya. Let it flow. Biarkan saja mengalir setiap hari.
Di rumah yang lain, seorang ibu senantiasa berusaha bangun lebih pagi untuk menunaikan kewajiban rumah tangganya. Ia mencicil menyiapkan bahan masakan sejak malam, menyapu dan merapikan rumah setelah tahajjud sambil memutar mesin cuci. Serta menyiapkan makanan untuk sarapan bersama. Saat si kecil bangun, ia sudah "ready" untuk membersamai hari-hari si kecil. Ia rela jam tidurnya berkurang, agar dapat melihat perkembangan anaknya.

Sementara di rumah yang lain, seorang ibu harus bersiap berangkat ke kantor setelah usai sholat Subuh. Diciuminya anaknya yang masih terpejam. Dititipkannya pada "Mba/Mbah" sang anak dengan lebih dulu menyiapkan segala keperluannya, baik makanannya, baju-bajunya, juga aktivitas bermain si kecil. Tak lupa, jauh-jauh hari sebelumnya ia juga telah "membriefing" pengasuh anaknya dengan visi keluarga mereka. Saat sudah tiba di rumah, ia tinggalkan segala pikiran tentang "urusan kantor", sehingga tak hanya raganya yg tiba di rumah, tp juga jiwanya telah siap membersamai si kecil di tengah aktivitas padatnya.

IBU. Apapun pekerjaannya sekarang. Apapun latar belakang sekolahnya. Sejatinya, kita memiliki peran yang sama: madrasah utama bagi buah hati kita. Kitalah yang diberikan tanggung jawab oleh Allah SWT untuk mendidik buah hati kita. Di tangan kitalah tumbuh kembang anak kita bergantung. Di telapak kaki kitalah surga mereka berada. Apakah di usia dininya, lebih banyak mereka yang mengisi hari-hari kita? Ataukah kita yang mengisi hari-hari mereka?

Anak-anak usia dini tentulah belum memahami ‘tugas’ besarnya di dunia ini. Ia belum bisa (layaknya orang dewasa) belajar sendiri. Mereka perlu dibimbing, diarahkan, dibersamai, agar tugas-tugas perkembangannya sesuai dengan usianya. Untuk itulah, kita sebagai IBU harus pandai mengisi hari-hari si kecil dengan beragam aktivitas yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.

Dunia anak usia dini ialah BERMAIN. Maka, janganlah sekali-kali kita melepaskannya dari dunia mereka. Siapkanlah beragam permainan dan BERMAINLAH BERSAMANYA. Mainan yang banyak, tanpa adanya arahan dan bimbingan tak begitu berarti bagi tumbuh kembang si kecil. Bunda, mari kita siapkan waktu, minimal dua jam untuk fokus membersamai tumbuh kembang si kecil. Tanamkan nilai-nilai positif pada setiap permainan yang ia mainkan, sisipkan informasi dan pengetahuan baru dari aktivitas bermainnya. Dan jadikanlah tiap kegiatannya senantiasa penuh makna.

Apakah bermain membuang-buang waktu? Tak berguna? Menjauhkan anak dari Allah? Jawabnya ada pada diri kita masing2. Aktivitas permainan apa yg kita berikan pd buah hati kita? Apakah dalam tiap aktivitas tersebut kita selipkan iman di dadanya? Apakah dalam tiap permainan telah kita sematkan ruh Islam di hatinya? Apakah akhlak dan adabnya saat bermain telah kita contohkan dengan akhlak yg baik? Akankah kita senantiasa mengingat Allah dalam tiap aktivitas? Alangkah lebih baik jika aktivitas kita tak dipisahkan dari mengingat Allah, tentunya juga dalam aktivitas bermain si kecil.

Bunda, bermain tak melulu harus menggunakan bahan-bahan yang mahal. Barang-barang di rumah bisa sekali kita gunakan untuk bermain bersama si kecil. Keberadaan media sosial dapat kita gunakan untuk mencari berbagai ide permainan yang kini banyak terserak di buku, web, instagram, facebook, pinterest, dsb. Asalkan ada niat yang kuat dalam diri kita untuk membersamai tumbuh kembang si kecil setiap harinya, maka tiada alasan ‘repot’, apalagi ‘malas’. Khalid Ahmad Syantut, dalam bukunya yang berjudul Melejitkan Potensi Moral dan Spiritual Anak mengatakan bahwa tempat bermain anak tidak kalah pentingnya dengan dapur rumah kita. Bagi Ayah-Bunda yang diberikan rezeki berlebih, perluaslah tempat bermain anak-anak kita.

Bunda, bermain memiliki banyak manfaat bagi anak. Melalui kegiatan bermain, fisik anak semakin berkembang sebab anak mendapat banyak kesempatan untuk melakukan kegiatan yang melibatkan gerak tubuh. Misalnya, Bunda dapat menstimulasi anak dengan memberikan bola untuk menguatkan otot kakinya. Manfaat lainnya, kegiatan bermain dapat menstimulasi motorik kasar dan motorik halus anak, anak dapat mengkoordinasikan mata-tangannya dari kegiatan bermain seperti menuang air ke dalam botol yang kelak akan berguna untuk persiapan menulis si kecil. Anak dapat mengkoordinasi gerakan tangan-kakinya dengan kegiatan memanjat ataupun merangkak, dll. Bermain juga dapat meningkatkan imajinasi dan kreativitas anak, misalnya saat bermain peran, membaca cerita, melukis, mendongeng, dll. Kognitif anak pun semakin terstimulasi dari berbagai kegiatan bermain, seperti bermain puzzle, tebak gambar, memori games, dll. Selain itu, bermain pun dapat meningkatkan keterampilan sosial anak. Pada beberapa permainan yang membutuhkan teman, seperti monopoli misalnya, anak akan belajar bersabar, bergiliran, mengantri, bekerja sama, dsb. Berbagai manfaat ini dapat kita "ikat" erat-erat jika kita mengetahui hikmah dari tiap permainan yang kita lakukan bersama si kecil.

Bunda, keberagaman stimulus yang kita berikan melalui kegiatan bermain si kecil tentunya jauh lebih baik daripada kegiatan yang ‘itu-itu saja’ setiap hari. Dengan demikian, memiliki plan kegiatan anak perlu juga kita lakukan. Beberapa Bunda, bahkan memiliki jadwal harian/kegiatan untuk putra-putrinya. Bagi Bunda-Bunda yang merasa lebih nyaman tanpa membuat jadwal, setidaknya tetap memiliki tujuan dan perencanaan yang jelas untuk perkembangan buah hatinya.

Bunda, agar kita dapat menstimulus anak kita dengan tepat, tentunya kita memerlukan ILMU. Selayaknya, kita senantiasa belajar mengenai tumbuh kembang anak, kesehatan, serta ragam ilmu parenting lainnya. Mari kita terus belajar dan bertumbuh bersama buah hati kita. Tetap semangat bermain bersama buah hati, Smart Mommy.

Oleh Julia Sarah Rangkuti