Anak yang sedang memasuki usia remaja biasanya mulai menunjukkan sikap memberontak dan menuntut banyak perhatian dari kedua orangtuanya. Seiring dengan itu terjadi juga perubahan dalam diri anak-anak kita, baik anak perempuan maupun anak laki-laki.

Perkembangan otak

Memasuki usia remaja otak anak berkembang dengan sangat pesat, dari awalnya mereka berpikir konkrit (berpikir dengan cara melihat obyek), kini mereka juga bisa berpikir secara abstrak (mampu mengolah kata-kata yang diterimanya). Kemampuan analisa sintesa dan aspek-aspek berpikir anak berkembang secara penuh.

Hormon

Hormon testosteron pada tubuh anak berkembang 20 kali lebih cepat menyebabkan 20 kali lebih cepat menyebabkan terjadinya perubahan fisik. Seperti wajah berminyak, tungkai kaki memanjang, tumbuh bulu-bulu halus, hidung membesar, dan sebagainya. Sayangnya, belum tentu anak bisa menerima perubahan-perubahan ini sehingga dapat menimbulkan kekacauan emosis pada anak.

Kekacauan emosi atau emosi yang berayun, biasanya ditandai dengan banyaknya keluhan yang dirisaukan oleh anak. Antara lain ketidakpuasan terhadap dirinya, lingkungan, ditambah beban-beban pelajaran disekolah dengan jam belajar yang panjang, juga les-les tambahan yang membuaa anak sulit memiliki waktu santai. Hal ini meningkatkan rasa cemas berkepanjangan.

Ketika saat cemas itu datang, aliran gelombang otak anak, yang normalnya 10 putaran per detik, meningkat menjadi 25 putaran perdetik. Hal ini mengakibatkan sel-sel otak anak pada Pre Frontal Cortex (PFC), bagian otak yang berada di depan, persisnya di atas mata, menjadi kelelahan. Kelelahan pada PFC ini pada akhirnya akan mematikan ribuan bahkan jutaan sel pada otak anak, karena otak tidak didesain untuk menanggung stres dalam waktu lama. Lalu, bagaimana menyelamatkan anak remaja kita?

Dibutuhkan 2 L untuk para orangtua agar bisa menerima, memahami dan menyikapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri anak-anak kita saat beranjak remaja, yaitu:

LOVE

Bangun ikatan hubungan emosional dan komunikasi dengan anak berlandaskan cinta. Anak memiliki kebutuhan untuk didengarkan perasaannya agar emosi yang sedang ia alami bisa mengalir. Sebagai orangtua, mendengar keluhan anak tidak hanya membutuhkan sepasang telinga, tapi juga membutuhkan hati, jiwa dan mata kita. Dengan perhatian penuh, anak merasa mendapatkan perhatian yang dibutuhkannya. Sehingga ia membangun kepercayaan pada orangtua untuk menjadi tempat berkeluh kesah tentang apa yang mereka rasakan dan beban-beban yang menghimpitnya.

Komunikasi yang membutuhkan hati, jiwa, mata dan telinga ini merupakan syarat utama orangtua agar bisa memeriksa setiap fase pertumbuhan psikologis dan fisik anak-anak remajanya. Sebagai contoh, faktor asupan makanan sangat berpengaruh  pada pertumbuhan anak. Anak-anak yang sering makan makanan cepat saji cenderung akan menjadi gemuk. Pada anak laki-laki, kegemukan bisa menyebabkan ukuran alat kelaminnya tidak sebesar ukuran normal anak seusianya. Nah, jika sejak kecil kita tidak terbiasa membangun komunikasi yang hangat, bagaimana kita bisa tahu bahwa remaja kita cemas tentang ukuran alat kelaminnyan yang berbeda dari teman-temannya. Padahal disisi lain, masalah ini ternyata sebenarnya juga membutuhkan pengobatan medis sejak dini sebelum mereka memasuki usia remaja.

Keterbatasan waktu seringkali menjadi kendala bagi banyak orangtua untuk bisa mendengarkan perasaan-perasaan anak secara penuh. Apalagi bagi orangtua yang bekerja, biasanya saat pulang kerja sudah kehabisan energi. Balum lagi jika ada pekerjaan yang dibawa pulang dan harus diselesaikan sesegera mungkin. Kondisi memaksa anak harus berebut perhatian denga tugas-tugas kantor orangtuanya, bahkan gadget yang selalu dalam genggaman sang ayah dan ibu.

Sebaiknya, saat memasuki rumah para orangtua menyiapkan diri dan tubuh untuk memberi perhatian pada anak. Singkirkan semua masalah-masalah kantor dan aneka gadget sejenak saja untuk memberi waktu pada anak kita berbicara.

LOGIC

Mengasuh anak tidak cukup hanya mengandalkan cinta,namun juga membutuhkan logika yang menuntut komitmen dan kerja keras. Dengan perkembangan otaknya secara penuh, kita juga harus mendidik dan mengajarkan mereka tentang tanggungjawab dan mengenalkan anak-anak pada pada rasa kecewa, sakit, sedih, dan jatuh bangun. Jika anak dibiasakan hidup dengan aman dan sempurna, mereka akan kesulitan belajar memahami penderitaan. Karena bentuk-bentuk penderitaan  diatas merupakan salah bentuk pelajaran tentang hidup. Kenalkan juga anak sikap tanggung jawab dan konsekuensi dari semua perilakunya.

Saat anak sedang belajar tentang rasa sakit atau kecewa, orangtua harus berperan sebagai jaring pengaman emosi bagi anak. Dampingi dan bantu mereka bangkit dari rasa sakit. Beri mereka kesempatan belajar menentukan pilihan dalam mengatasi masalahnya dan mengerti setiap konsekuensi yang timbul atas keputusannya. Dengan begini kelak saat anak beranjak dewasa mereka bisa mempunyai sikap dan integritas.

Jadi, mari kita bangun komunikasi yang baik dan hangat berlandaskan cinta, sehingga kita bisa menjadi jaring pengaman emosi bagi anak-anak remaja. Keberhasilan mereka mengatasi gejolakemosinya dimasa remaja akan membentuk karakter mereka kelak di masa depan.

Oleh Elly Risman