Sering kali kita mendengar curahan hati orang tua terhadap prilaku anaknya yang sering kali tidak seperti yang diharapkan orang tua nya. Anak sekarang cenderung berani kepada orang tuanya, begitu celoteh beberapa orang tua yang tengah membicarakan tingkah laku anak-anak nya.

Mengapa anak cenderung bertingkah seperti itu? apakah orang tuanya yang memang kurang memberi perhatian kepada anak – anak nya sehingga anak kurang pendekatan secara emosional ? ataukah orang tua nya memang mempunyai kecenderungan prilaku yang  tanpa disadari bisa berdampak pada prilaku anak ?

Pertanyaan tersebut diatas memang ada benarnya, bagi orang tua harus segera berbenah, introspeksi diri terhadap hal-hal yang berdampak negative  terhadap perkembangan jiwa anak nya. Namun dibalik semua itu ada satu hal yang saat ini dirisaukan banyak pihak terhadap perkembangan anak yaitu pengaruh teknologi informasi dan internet.

 Ada pernyataan menarik dari  Dr Indria Laksmi Gamayanti, seorang spikolog dan dosen psikologi Fakultas Kedokteran UGM, tentang prilaku anak saat ini yang sudah berubah. Beliau mengungkapkan bahwa saat ini jika anak kecewa, ada kecenderungan mereka menarik diri, marah, mudah putus asa atau frustrasi. Sekarang toleransi anak-anak juga rendah. Menurut Gamayanti, hal tersebut dikarenakan anak dimasa kini sudah terkena pengaruh teknologi informasi sejak dini seperti computer dan akses internet.

Menurut pengamatan penulis, anak-anak paling suka mengakses games dan situs jejaring social bahkan tidak jarang mereka rela ber jam-jam dihadapan computer. Hal ini berdampak anak kurang bersosialisasi dengan teman-teman nya. Hati-hati  terhadap situs porno tiba-tiba menghampiri anak-anak saat mengakses internet. Kadang-kadang situs popular video youtube, google image, dan beberapa games tanpa disengaja terkadang menampilkan foto-foto syur dan video yang kurang pantas di akses untuk anak-anak.Hal ini disebabkan kadang anak-anak kita menggunakan keyword tertentu yang secara tidak sengaja menampilkan video atau gambar porno yang dikirim oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Meskipun beberapa ahli teknologi informasi sudah mampu memberikan proteksi untuk internet aman bagi anak-anak, pada kenyataannya teknologi tersebut tidak bisa sepenuhnya mencegah muncul nya  situs-situs berbahaya. Hal tersebut berdampak kurang baik terhadap perkembangan jiwa anak-anak. Oleh karena nya seyogyanya orang tua harus mendampingin anak-anak nya saat ber internet.

Untuk tujuan pembelajaran di sekolah,  Gamayanti tidak setuju apabila anak TK dan SD sudah belajar komputer dan siswa disuruh mengakes sendiri tanpa pendampingan guru nya. Dia pun menyarankan agar proses belajar menggunakan multimedia sehingga lebih menarik dan hidup, sebaiknya menggunakan LCD proyektor. Atau, lebih baik hanya guru yang menggunakan komputer serta menjelaskannya, sedangkan murid melihatnya. Jadi Jangan senang dulu kalau anak anda jago internet sejak kecil, berhati-hatilah terhadap perkembangan jiwa nya. Bagaimana menurut Anda?