Seringkali seorang ayah tidak pernah bisa berkata tidak kepada anak-anaknya. Entah karena ingin membuktikan rasa sayangnya atau sebagai kompensasi atas kurangnya waktu bersama anak-anak. Padahal dengan selalu mengiyakan apa keinginan anak  belum tentu juga akan menjadi kebaikan bagi anak-anaknya. Adakalanya, seorang ayah harus bisa berkata "Tidak" kepada anaknya, dan ini semua tentunya untuk kebaikan sang anak.

Nah, berikut ini ada sebuah kisah tentang keteladanan Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz ketika berperan sebagai ayah.

Sejarah Islam memillki dua Umar yang sangat disegani, yakni Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz. Umar yang pertama adalah sahabat Rasul Saw, mertua dan khalifah (pemimpin) umat Islam.

Umar bin Khattab terkenal karena kerasnya menentang Islam sebelum menjadi Muslim. Tapi setelah masuk Islam menjadi sangat tegas terhadap orang kafir dan pembela Islam yang utama. Sedangkan Umar bin Abdul Aziz adalah seorang Khalifah dari Bani Umayyah yang hidup pada era Tabi’in. 1a terkenal karena mampu menyejahterakan penduduk yang dipimpinnya. Meski negara dan masyarakat dalam keadaan sejahtera, ia tetap menjadi seorang khalifah yang sangat zuhud (sederhana).

Jika keteladanan keduanya dalam memimpin umat, sudah tidak diragukan lagi dan banyak diriwayatkan. Tapi keteladanan keduanya ketika menjadi seorang ayah bagi anak-anaknya di tengah keluarga, jarang diriwayatkan. Padahal, keduanya juga seorang ayah yang memiliki banyak keteladanan saat memerankan dirinya menjadi Bapak bagi anak-anaknya.

Ketika sedang sakit, Khalifah Umar bin Abdul Azis didatangi oleh sahabatnya, Maslamah bin Abdul Malik. Ia adalah seorang keluarga Abdul Malik bin Marwan. Maslamah mengingatkan Umar bin Abdul Aziz dengan mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya engkau telah membuat anak-anakmu miskin. Padahal harta negara berlimpah.”

Umar bin Abdul Aziz menjawab pernyataan Maslamah dengan mengatakan, “Demi Allah, saya tidak pernah menutup hak mereka dan tidak akan memberikan yang bukan haknya.” Selanjutnya, Umar bin Abdul Aziz membaca al-Qur’an surat al-A’raaf 196. “Sesungguhnya Pelindungku ialah yang Telah menurunkan AlKitab (al- Qur’an), dan dia melindung; orang-orang yang shalih.”

Lalu, Umar bin Abdul Aziz menegaskan, “Anakku kemungkinannya adalah satu dari dua pilihan. Pertama, ia menjadi orang-orang shalih yang bertakwa kepada Allah SWT, maka pastilah Allah SWT yang akan memberikan jalan keluar dari semua masalah yang akan mereka hadapi. Atau kemungkinan kedua, mereka menjadi ahli maksiat, maka saya tidak akan pernah menjadi fasilitator bagi perbuatan maksiatnya.”

Sedangkan teladan dari Umar bin Khattab dan anaknya adalah, suatu hari Khalifah Umar bin Khattab ra mendengar salah seorang anaknya membeli cincin bermata seharga seribu dirham. Ia segera menulis surat teguran kepada anaknya dengan kata-kata berikut: “Aku mendengar engkau membeli cincin permata seharga seribu dirham. Kalau itu benar, segera juallah cincin itu dan gunakan uangnya untuk mengenyangkan seribu orang yang lapar. Lalu, buatlah cincin dari besi dan ukirlah dengan kata-kata, “Semoga Allah merahmati orang yang mengenali jati dirinya.”

Dari ketegasan dua Umar tersebut dalam mendidik anak, bisa menjadi teladan bagi Anda yang ingin menjadi teladan bagi keluarganya. Jika ingin menjadi ayah teladan bagi keluarga, Anda harus tegas memberikan pengertian pada anak-anak dan istri bahwa dalam hidup ada batasan norma dan nilai agama dalam menggunakan harta.

Harus sesuai dengan anjuran Allah SWT. Tidak pelit tapi juga tidak menghambur-hamburkannya.Jadi, dalam batas tertentu Anda harus berani untuk tidak selalu menuruti permintaan buah hati dan istri Anda. Terkadang, Anda memang harus mengatakan tidak, karena apa yang mereka inginkan memang tidak dibutuhkan. (sumber: Majalah Oase No. 03 Th. I 22 Maret 2012)