IQ dipuja secara berlebihan, meski fakta menunjukkan bahwa, kecerdasan emosional lebih berperan di masa depan. Bisakah kecerdasan emosi ini dikembangkan pada si kecil? Bagaimana caranya?

Besar kecil angka tes IQ, hingga kini masih jadi sumber kebanggaan, kekecewaan, harapan juga keputus-asaan orang tua. IQ dipandang sebagai penentu kondisi keberhasilan masa depan. Kalau si kecil ber IQ tinggi, masa depan nampak cerah dan menyenangkan. Namun, jika tidak sebaliknyalah yang terjadi. Padahal anggapan bahwa IQ merupakan penentu masa depan, sudah harus dibuang. Ada banyak perkecualian dalam pernyataan tersebut. Kemampuan yang diukur dalam test IQ di sekolah-sekolah kita sebenarnya hanya menyumbangkan sebagian kecil (sekitar 20%), dari faktor penentu kesuksesan hidup. Dalam sebuah studi atas sekelompok mahasiswa universitas Harvard, terbukti bahwa para mahasiswa yang cemerlang di bangku kuliah ternyata tak terlampau sukses dibandingkan rekan-rekannya yang IQ-nya lebih rendah, baik dalam penghasilan, posisi kerja, juga produktivitas. Mereka pun tidak termasuk kelompok yang paling mengalami kepuasan hidup, yang berbahagia dalam hubungan persahabatan, keluarga dan asmara.

Untuk menggapai harapan di masa depan, sebenarnya kemampuan di bidang emosi lebih menentukan. Kemampuan tersebut, misalnya kesanggupan menghadapi frustasi, kemampuan mengendalikan emosi, semangat dan optimisme, kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain, atau empati. Kemampuan-kemampuan ini diistilahkan sebagai kecerdasan emosional (Emotional Intelegence).

Jika IQ merupakan hal yang relatif sejak lahir hingga menjelang ajal, EL tidaklah demikian. EL dapat dipelajari dan dikembangkan. Pelajaran emosi yang kita peroleh sejak masa kanak-kanak baik di rumah, sekolah, masyarakat, akan membentuk sirkuit emosi dalam tubuh kita, menentukan kecakapan kita dalam bidang emosi. Membentuk kecerdasan emosi kita.

Namun, meski terus berlangsung sepanjang hidup dan bisa bersumber dari berbagai hal, masa dini di keluarga merupakan tempat serta waktu yang paling efektif bagi pelajaran emosi. Dan kita orangtua merupakan guru pertama dan utama bagi anak dalam hal ini. Sebagai pembimbing utama anak, apa saja yang perlu kita perhatikan dalam pembelajaran emosi? Berikut beberapa saran untuk Anda.

Jadilah contoh bagi anak
Untuk menjadi guru emosi yang baik, Anda harus menguasai bidang yang Anda ajarkan. Asalah kecerdasan emosi Anda terus menerus melalui berbagai pengalaman sehari-hari. Anak akan menjalani proses pembelajarn emosi, selain dengan mendengarkan dan melakukan nasihat Anda, juda dengan mengamati dan meniru hal-hal yang dilihatnya dalam diri Anda.

Mengajarkan pengenalan emosi
Kemampuan memahami perasaan sendiri membuat orang memliki kepekaan tinggi dalam pengambilan keputusan, juga dalam berbagai hal ini. Untuk mengajarkan hal ini, perhatian dan kepekaan terhadap anak merupakan syarat utama.

Tanggapi perasaan anak
Bila setiap perasaan anak ditanggapi secara pas, anak akan merasa bahwa dirinya merupakan sosok yang penting di mata orangtuanya. Ia ditanggapi, ia diperhatikan, dia dipahami. Saat seorang bayi menjerit kesenangan, sang ayah menanggapi dan ikut larut dalam kegembiraan sang bayi, denga menggelitiknya perlahan, berbicara dengan nada dan intensitas yang selaras dengan keriangan si kecil. Dengan bersikap tanggap seperti itu, si bayi yakin bahwa ia dikehendaki oleh ayah dan ibunya.

Melatih pengendalian diri
Dalam sebuah penelitian, sekelompok anak dikumpulkan. Pada mereka diberikan dua pilihan: boleh langsung mengambil satu permen yang enak lalu keluar ruangan, atau menunggu beberapa menit dan bisa mendapat dua permen. Kelompok langsung terbagi dua. Setelah diamati bertahun-tahun kemudian, anak-anak yang menunggu untuk mendapatkan dua permen ternyata berkembang menjadi anak yang populer, menyenangkan, sukses dalam pergaulan sosial. Hal sebaliknya terjadi pada kelompok pertama. Apa yang membedakan mereka? Anak di kelompok ke dua yang mau menunggu beberapa menit agar mendapat permen tambahan, memiliki keunggulan ini: mereka mampu menunda pemuasan penting. Kemampuan ini memang penting. Anda harus melatih hal ini pada anak, tentunya dengan cara-cara yang sesuai dengan situasi dan kondisinya.

Melatih pengelolaan emosi
Kemarahan hendaknya jangan dikubur tanpa diberi saluran, karena hasilnya adalah timbunan yang bisa meledak secara dahsyat. Namun membiarkan setiap kemarahan langsung tersalur begitu saja, juga tidak tepat. Kemarahan harus dikelola. Seperti kata Aristoteles, "Siapapun bisa marah-marah. Itu mudah. Tetapi marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar dan dengan cara yang baik bukanlah hal yang mudah." Memang, mengelola emosi secara pas, entah itu kemarahan ataupun kegembiraan, sungguh mudah. Tak tercipta begitu saja, mesti melalui proses panjang dan intensif. Namun sekali terkuasai, maka kemampuan ini akan sungguh melicinkan jalan anak menuju masa depan.

Menerapkan disiplin dengan konsep empati
Empati merupakan kemampuan pergaulan yang amat mendasar. Orang yang emaptik akan lebih mampu menangkap sinyal sosial tersembunyi, tentang kebutuhan dan keinginan orang lain. Sinyal ini bisa ditangkap lewat nada suara, raut wajah dan hal non verbal lainnya. Empati anak ini bisa Anda kembangkan setiap hari, lewat percakapan-percakapan ringan.

Melatih keterampilan komunikasi
Salah satu bagian kecerdasan emosi adalah kemampuan komunikasi dengan orang lain. Kemampuan di bidang ini seperti menyatakan gagasan, perasaan, dan konsep pada orang lain, kemampuan bergaul dan menyesuaikan diri, harus dilatih sejak dini. Sering-seringlah mengundang anak mengemukakan pendapat atau pun perasaannya, lalu dengarkan dan tanggapi. Kemampuan ini amat dipengaruhi oleh suasana dalam keluarga. Bila sejak awal orangtua tanggap, penuh perhatian, memberi ruang bebas pada anak untuk mengekspresikan diri, anak akan cenderung berkembang menjadi anak percaya diri, mampu menikmati hubungan sosial, terampil dalam kerjasama kelompok.

Selimuti dengan iklim positif
Iklim positif yang selalu menyelimuti kita, amat mempengaruhi hasil pembelajaran emosi, iklim positif seperti kegembiraan, harapan, kasih sayang, memberikan dampak yang sungguh positif. Semua unsur positif ini hendaknya selalu Anda jadikan selimut kehidupan keluarga Anda.

Sumber: Majalah AyahBunda