Setiap anak lahir dengan dorongan berbuat baik. Ia mencintai kebaikan dan secara naluriah ingin menjaga diri dari keburukan. Tetapi saat lahir, mereka belum bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan. Orangtualah yang keliru memberi tepuk tangan pada keburukannya, sementara saat berbuat baik terkadang mengabaikannya. 

hanya gara-gara berbuat pada adiknya di waktu yang tidak tepat, mata kita melotot dan tangan kita segera memberi pesan pada lengannya dengan cubitan yang membuatnya meringis kesakitan. padahal yang seharusnya kita lakukan adalah memuji itikadnya dan meluruskan tindakannya. Bukan menyalahkan. Apalagi mempersalahkan. Sebab setiap anak pada dasarnya tidak mau disalahkan dan dicela. Apalagi dipermalukan. Tetapi mereka akan senang apabila dihargai dan ditunjukkan apa yang lebih baik bagi mereka.

Mengutip kata-kata dari Dryden Vos dalam buku yang bertajuk Learning Revolution,"Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskan kejeniusan mereka dalam enam bulan pertama. Kejeniusan mereka menguap begitu saja seperti embun pagi diterpa sinar matahari karena perlakuan yang salah dari kita. Bukan karena telah habisnya masa bagi kecemerlangan mereka. 

Setiap bayi lahir dalam keadaan antusias dan optimis. Tidak ada bayi yang termenung sedih setelah gagal merangkak. Menangis itu biasa, sebagai reaksi dari badan yang sakit atau perut yang lapar, sementara mengomunikasikan dalam bahasa wicara belum mampu. Tetapi setelah tangis reda, antusiasme itu bangkit lagi, menyala-nyala dalam diri mereka. Optimis mereka tumbuh. Tidak sibuk dengan keadaannya sekarang. Apalagi dengan masa lalu. tetapi mereka sibuk dengan usaha. 

Sayangnya, harta sangat berharga bernama antusiasme dan optimisme ini kita matikan dalam dua tahun pertama usia mereka. Kenapa? Ada beberapa hal yang sangat mungkin dapat dijadikan alasan. Yang pertama, adalah kurangnya ilmu. Meski sadar bahwa al-'ilmu qabla al-'amal (ilmu itu mendahului amal), kita rupanya mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orang tua. Padahal tugas kita menjadi orang tua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja. Alasan yang kedua adalah masa'il qalbiyah (urusan hati) kita yang tak terurus. Kita lapar ruhani di saat harus mengenyangkan ruhani anak kita. Padahal laparnya ruhani jauh lebih besar bahayanya dibandingkan laparnya badan.

Pelajaran apa yang kita petik?

Kita perlu berpikir tentang bagaimana menjalankan tugas keorangtuaan (parenting), yakni mengasuh, membesarkan dan mendidik mereka agar bukan saja tidak mematikan segala kebaikan mereka. Lebih dari itu, kita merangsang inisiatif-inisiatif mereka, mendorong semangat mereka, memberi penerimaan yang tulus dan memberi perhatian  atas setiap kebaikan yang mereka lakukan. Kita perlu mengembangkan inisiatif positif dan melakukan pendekatan yang positif. 

'Alaa kulli hal, di atas berbagai prinsip yang perlu kita ketahui, kunci utamanya terletak pada komunikasi. Perilaku yang keliru bisa kita luruskan dengan komunikasi positif.

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim